Friday, October 11, 2013

SEJARAH MARGA TARIGAN DAN KAROKARO PURBA DI TANAH KARO


Oleh: Masrul Purba Dasuha
SEJARAH TARIGAN

Versi I

Salah seorang pengetua adat di Simpang Bage bermarga Girsang
menceritakan bahwa marga Tarigan ini dahulu berawal dari seorang pemuda
bermarga Purba yang diminta oleh raja Nagur marga damanik untuk
menyelesaikan perselisihan wilayah Dolog Silou yang melibatkan Naga Saribu. Oleh raja disuruh tarik hotang (rotan) yang panjang untuk mengukur daerah itu.

Kebetulan pada saat itu kekurangan orang untuk menarik rotan tersebut
dan ketika itu ada seorang pemuda yang datang dari daerah
Tingkos/Cingkes bermarga Purba yang hendak ke Saribudolok melewati
daerah pertikaian tersebut.

Maka dimintalah ia untuk menarik rotan tersebut ke seberang, lalu dibagilah
kampung tersebut menjadi perbatasan kedua daerah, itulah kampung
Paribuan Jahean dan Paribuan Juluan sekarang. Sejak saat itu dia lebih
dikenal orang dengan Purba Tarikan, lama-lama penamaan itu berubah jadi
Tarigan. Sebagian orang yang tidak mengetahui marganya lalu memanggilnya Tarikan saja, demikianlah di kemudian hari orang lebih mengenalnya dengan panggilan tersebut, marga Purbanya pun menjadi samar-samar dan menghilang. Kampung awalnya setelah menjadi Tarigan adalah Cingkes, dari situlah keturunannya menyebar ke daerah lain di tanah Karo.

Ia pun menikah dengan seorang wanita beru Karo dan menjadi Anak Beru,
sejak saat itu dia beserta keluarganya menjadi bagian dari suku Karo. Ia
lalu mengundang saudara semarganya yang lain dari Tambak Bawang marga
Purba Tambak untuk datang ke tempatnya. Di kemudian hari marga
Tarigan menjadi wadah perhimpunan marga Purba Simalungun. Marga Purba
yang berada di sekitar perbatasan Simalungun dan Karo mulai dari Bangun
Purba, Gunung Mariah, Sinombah, hingga ke Cingkes umumnya banyak yang
beralih menjadi marga Tarigan dengan membawa cabangnya masing-masing
seperti saat masih berada di Simalungun. Keturunan mereka pun
berkembang, Purba Tambak menjadi Tarigan Tambak yang kemudian terbagi
lagi menjadi Tarigan Tambak Pekan dan Cingkes, Purba Silangit menjadi
Tarigan Silangit, Purba Sigumondrong menjadi Tarigan Gerneng yang
kemudian pecah menjadi Tarigan Tegur, Purba Tua menjadi Tarigan
Tua, Purba Tambun Saribu menjadi Tarigan Tambun, dan Purba Sihala dari
Hinalang menjadi Tarigan Purba atau sering juga disebut Tarigan Purba
Cikala.

Adapun Girsang adalah seorang pengembara ulung, ia bertualang mulai dari kampung halamannmya di Girsang dekat Parapat karena diundang oleh keluarga marga Sinaga untuk mengobati salah seorang anggota keluarganya. Di tempat itu, ia mendirikan sebuah kampung bernama Girsang. Dari situ ia lalu diundang lagi oleh salah seorang keluarga marga Sihombing di Siborongborong. Di tempat itu ia mendirikan kampung Naga Saribu dan Sitampurung.

Setelah berdiam ditempat itu beberapa lama ia pun menikah dengan salah seorang puteri Toba dan melahirkan sejumlah keturunan bermarga Girsang. Ia kemudian berkelana lagi menemui saudaranya yang ada di Bakkara
daerah Humbang demkat Dolok Sanggul. Di tempat itu sudah ada marga
Purba keturunan seorang dukun yg juga datang dari Simalungun yg diundang
untuk mengobati salah seorang keluarga pengetua kampung di tempat itu.
Marga Purba tersebut telah diangkat menjadi anak angkat oleh marga
Simamora.

Setelah beberapa lama di tempat itu, Girsang tersebut merantau lagi ke Pegagan tanah Pakpak, ia pun diterima oleh Raja Mandida Manik dan dinikahkan dengan puterinya. Ia lalu diberi tanah untuk tempat tinggal di Bukit Lehu. Keturunannya kemudian ada yg merantau ke Singkil dan salah seorang di antaranya berkelana ke Naga Saribu, Silimakuta dan diterima oleh marga Sinaga, penduduk awal yang mendiami Silimakuta. Ia pun menikahi puteri kepala kampung bermarga Sinaga. Dan setelah itu penguasaan kampung diserahkan kepadanya karena ia telah berjasa membantu mertuanya melawan musuh yang datang dari Kerajaan Siantar. Di tanah Karo, Tarigan Gersang melahirkan cabang baru yaitu Sahing yang kemudian mendirikan kampung Sinaman. Saudara Girsang yaitu Siboro yang bermukim di Tungtung Baru tanah Pakpak, sebagian keturunannya kemudian ada yang pindah ke Juhar tanah Karo dan diterima oleh Tarigan Tua merekalah yang menjadi Tarigan Sibero. Dan yang merantau ke tanah Gayo yang dikenal dengan marga Ceberou.

Pembagian marga Tarigan: 

1. Tambak, menurut naskah kuno Partingkian Bandar Hanopan yang pernah
diterjemahkan oleh taalambtenaar (ahli bahasa) Belanda Dr. Petrus
Voorhoeve, leluhur marga ini bernama Jigou yang datang dari Pagaruyung
kemudian merantau ke Simalungun dan menjadi Pangulu Tambak Bawang.
Keturunannya bernama Tuan Sindar Lela kemudian mendapat tempat di
Kerajaan Silou dan menjabat sebagai Raja Goraha Silou atas bantuan
Puteri Hijau. Ia memiliki 2 orang putera yaitu Tuan Toriti yang pindah
ke Silou Buntu dan mendirikan partuanon di sana, keturunannya disebut
dengan Purba Tambak Tualang. Sementara adiknya Tuan Timbangan Raja
mendirikan Partuanon Silou Dunia. Di kemudian hari 2 orang putera Tuan
Timbangan Raja bersengketa, yaitu Raja Rubun pindah ke Dolog Masihol, di
mana pasca runtuhnya Kerajaan Silou akibat perang saudara,
keturunannya kemudian mendirikan Kerajaan Dolog Silou yang menggunakan
marga Purba Tambak Lombang. Sedang adiknya Tuan Suha Bolak pindah ke
sekitar Tiga Runggu dan mendirikan Huta Suha Bolak yang kemudian menjadi
cikal bakal Kerajaan Panei dan memakai marga Purba Sidasuha. Keturunan
Purba Tambak yang menyebar ke tanah Karo menjadi Tarigan Tambak yang
kemudian terbagi lagi menjadi Tarigan Tambak Pekan dan Cingkes. Di tanah
Karo, marga ini mendiami daerah daerah Kebayaken dan Sukanalu.

2. Tua, berasal dari Purba Tua di Silimakuta, Simalungun. Marga ini
merupakan saudara dari Purba Tanjung di Sipinggan, simpang Haranggaol.
Sebagian keturunannya meyakini leluhur marga ini adalah Purba Tambak.
Sebagian keturunannya pindah ke tanah Karo menjadi Tarigan Tua.

3. Silangit, berasal dari Purba Silangit pendiri kampung Sinembah dan
Gunung Mariah. Menurut cerita lisan di Simalungun, leluhur marga ini
awalnya berdiam di sekitar Dolog Tinggi Raja. Akibat bencana alam daerah
mereka porak poranda yang mengakibatkan keturunannya menyebar ke
sejumlah daerah seperti Gunung Mariah, Sinombah, Dolog Silou, Silou
Kahean, Raya, dan tanah Karo. Di tanah Karo mereka menjadi Tarigan
Silangit.

4. Tendang, berasal dari Purba Tondang di Huta Tanoh, Simalungun dan saudara dari Purba Tambun Saribu. Sebagian keturunannya meyakini leluhurnya berasal dari Purba Parhorbo di Humbang (Toba).

5. Tambun, berasal dari Purba Tambun Saribu di Harangan Silombu dan
Binangara, Simalungun. Marga ini bersaudara dengan Purba Tondang yang
menurut sebagian keturunannya meyakini leluhur mereka berasal dari Purba
Parhorbo di Humbang (Toba).

6. Gerneng, berasal dari Purba Sigumondrong di Lokkung yang kemudian menyebar ke Cingkes, Marubun, Togur, dan Raya, Simalungun. Marga ini merupakan keturunan dari Purba Tambak yang lahir dari boru Simarmata.

7. Purba Cekala atau Tarigan Purba, berasal dari Purba Sihala di Purba Hinalang, Simalungun pecahan dari Purba Pakpak. Marga ini mendiami Cingkes dan Tanjung Purba.

8. Sibero, marga ini datang dari Purba Sigulang Batu di Humbang (Toba)
lalu pindah ke Tungtung Batu, sebagian keturunannya merantau ke Juhar
menjadi Tarigan Sibero dan di Simalungun menjadi Purba Siboro dan di
tanah Gayo menjadi Ceberou. Di Juhar, marga ini membagi diri menjadi
Tarigan Sibayak dan Tarigan Jambor Lateng. Tarigan Sebayak mempunyai
nama rurun Batu (laki-laki) dan Pagit (perempuan). Sementara nama rurun
Tarigan Jambor Lateng adalah Lumbung (laki-laki) dan Tarik (perempuan).
Kemudian datang pulalah Tarigan Rumah Jahe dengan nama rurun Kawas
(laki-laki) dan Dombat (wanita). Marga ini menyebar mendiami daerah
Juhar, Kuta Raja, Keriahen, Munte, Tanjung Beringen, Selakar, dan
Lingga.

10. Gersang, marga ini bersaudara dengan Siboro yang sama-sama datang dari
Purba Sigulang Batu lalu merantau ke Bukit Lehu dan menikah dengan beru
Manik puteri dari Raja Mandida Manik di Suak Pegagan. Salah seorang
keturunannya ada yang memiliki keahlian meramu obat sehingga dikenal
juga dengan sebutan Datu Parulas dan menyumpit burung yang juga digelari
dengan Pangultop. Dalam perburuannya ia sampai ke Naga Mariah tanah
ulayat marga Sinaga, di mana pada masa itu Tuan Naga Mariah tengah
mendapat  ancaman dari musuh yang datang dari Kerajaan Siantar, berkat
bantuan si Girsang musuh dari Siantar dapat diatas. Atas jasanya, Tuan Naga Mariah kemudian menikahkannya dengan puterinya dan menyerahkan kekuasaan padanya. Adapun penduduk asli tempat itu yaitu marga Sinaga banyak yang mengungsi ke Batu Karang dan menjadi marga Peranginangin Bangun. Di tempat itu, Si Girsang kemudian mendirikan kampung Naga Saribu sebagai ibukota Kerajaan Silima Huta dengan menggabungkan lima kampung yaitu Rakutbesi, Dolog Panribuan, Saribu Jandi, Mardingding, dan Nagamariah. Marga ini terbagi lagi menjadi Girsang Jabu Bolon, Girsang Na Godang, Girsang Parhara, Girsang Rumah Parik, dan Girsang Rumah Bolon. Sebagian keturunannya pindah ke tanah Karo menjadi Tarigan Gersang. Adapun keturunan Purba Silangit ada juga yang menggabungkan diri dengan marga ini yang disebut dengan Girsang Silangit.

11. Tegur, pecahan Purba Sigumondrong yang berasal dari Huta Togur di Dolog Silou. Marga ini mendiami daerah Suka.

12. Cingkes, pecahan Tarigan Tambak di Cingkes (Tingkos) di Dolog Silou.

13. Sahing, pecahan Tarigan Girsang dari Huta Saing di Dolog Silou. Di tanah Karo marga ini mendirikan kampung Sinaman.

14. Pekan, pecahan Tarigan Tambak. Di tanah Karo, marga ini mendiami daerah Sukanalu dan Namo Enggang.

15. Ganagana, di Batu Karang.

16. Bondong, di Lingga.

17. Jampang. di Pergendangen.

18. Kerendam, di Kuala, Pulo Berayan dan sebagian pindah ke Siak dan menjadi Sultan disana.


Versi II

Ada cerita lisan (Darwin Prinst, SH. Legenda Merga Tarigan dalam
bulletin KAMKA No. 010/Maret 1978 ) yang menyebutkan merga Tarigan ini
tadinya berdiam di sebuah Gunung, yang berubah mejadi Danau Toba
sekarang. Mereka disebut sebagai bangsa Umang. Pada suatu hari, isteri
manusia umang Tarigan ini melahirkan sangat banyak mengeluarkan darah.
Darah ini, tiba-tiba menjadi kabut dan kemudian jadilah sebuah danau.
Cerita ini menggambarkan terjadinya Danau Toba dan migrasi orang Tarigan
dari daerah tersebut ke Purba Tua, Cingkes, dan Tongtong Batu. Tiga
orang keturunan merga Tarigan kemudian sampai ke Tongging yang waktu itu
diserang oleh burung Sigurda-Gurda berkepala tujuh. Untuk itu Tarigan memasang seorang anak gadis menjadi umpan guna membunuh manok Sigurda-gurda tersebut.

Sementara di bawah gadis itu digali lobang tempat sebagai benteng merga Tarigan.

Ketika burung Sigurda-gurda datang dan hendak menerkam anak gadis itu,
maka Tarigan ini lalu memanjat pohon dan menyumpit (eltep) kepala burung
garuda itu. Enam kepala kena sumpit, akan tetapi satu kepala tesembunyi
di balik dahan kayu. Salah seorang merga Tarigan ini lalu memanjat
pohon dan menusuk kepala itu dengan pisau. Maksud cerita ini mungkin
sekali, bahwa pada waktu itu sedang terjadi peperangan, atau penculikan
anak-anak gadis di Tongging. Pengulu Tongging merga Ginting Manik lalu
minta bantuan kepada merga Tarigan untuk mengalahkan musuhnya tersebut

Beberapa generasi setelah kejadian ini, tiga orang keturunan merga Tarigan ini
diberi nama menurut keahliannya masing-masing, yakni ; Tarigan
Pertendong (ahli telepati), Pengeltep (ahli menyumpit) dan
Pernangkih-nangkih (ahli panjat). Tarigan pengeltep kawin dengan beru
Ginting Manik. Diadakanlah pembagian wilayah antara penghulu Tongging
dengan Tarigan Pengeltep. Tarigan menyumpitkan eltepnya sampai ke
Tongtong Batu. Tarigan lalu pergi kesana, dan itulah sebabnya pendiri
kampung (Simantek Kuta) di Sidikalang dan sekitarnya adalah Tarigan
(Gersang). Tarigan Pertendong dan Tarigan Pernangkih-nangkih tinggal di
Tongging dan keturunannya kemudian mejadi Tarigan Purba, Sibero, dan
Cingkes, baik yang di Toba maupun yang di Simalungun. Beberapa generasi
kemudian berangkatlah dua orang Merga Tarigan dari Tongtong Batu ke
Juhar, yang kemudian di Juhar dikenal sebagai Tarigan Sibayak dan
Tarigan Jambor Lateng. Tarigan Sebayak mempunyai nama rurun Batu
(laki-laki) dan Pagit (perempuan). Sementara nama rurun Tarigan Jambor
Lateng adalah Lumbung (laki-laki) dan Tarik (perempuan). Kemudian datang
pulalah Tarigan Rumah Jahe dengan nama rurun Kawas (laki-laki) dan
Dombat (wanita).

SEJARAH KAROKARO PURBA

Versi I

Pada masa berikutnya, di Kerajaan Purba dengan rajanya bermarga
Purba Pakpak terjadi suatu tragedi di mana salah seorang permaisurinya melahirkan seorang putera, namun ternyata kelahirannya membawa kemalangan bagi keluarga kerajaan yang dalam istilah Simalungun disebut dengan Anak Panunda. Oleh raja lalu putera yang baru lahir itu
diperintahkan bunuh!

Tetapi Datu Bolon menolak perintah raja, diam-diam dia berpura-pura memenuhi perintah raja pergi ke Raja Berneh di kampung marga Karo-karo Kaban dekat Raya Berastagi. Di ladang
marga Karo-karo Kaban ini diletakkan Anak Panunda di dalam keranjang
dengan tulisan dalam bambu kecil menyebut bahwa anak ini adalah anak
Raja Purba di Simalungun! Oleh marga Kaban anak itu diangkat menjadi
anaknya kebetulan dia tidak punya anak laki-laki.

Ayah angkatnya Karokaro Kaban lalu memberikannya tanah sebagai tempat tinggal di arah hilir yang kemudian ia namakan Kaban Jahe. Di tempat tersebut
ia pun mengembangkan keturunan serta menggabungkan diri ke dalam marga
Karokaro dan jadilah marga Karokaro Purba seperti sekarang. Salah
seorang keturunannya adalah Sibayak Pa Pelita dari Rumah Berastagi dan
Sibayak Pa Mbelgah dari Rumah Kabanjahe. Semasa hidupnya, Pa Pelita
sering berkunjung ke Pamatang Purba, hingga ia pun akhirnya menikah
dengan boru Purba Pakpak saudarinya sendiri.

Pada saat ini kita bisa melihat sebuah patung dari salah seorang keturunan
Karokaro Purba yaitu Kapiten Purba yang berdiri kokoh di Kabanjahe yang
menunjuk ke arah Simalungun untuk menunjukkan asal leluhurnya. Demikianlah riwayat singkat munculnya marga Tarigan dan Karokaro Purba di tanah Karo.

Versi II

Alkisah, konon kabarnya pada masa dahulu, Sang Raja Purba di Simalungun terus – menerus didera oleh sakit berkepanjangan. Ada dugaan yang mengatakan bahwa masa kebahagiaan sedang dilanda kesuraman akibat lahirnya putra bungsunya, dianggap membawa kesialan bagi kehidupan Raja dan kerajaan secara luas.

Oleh karena itu, dipanggillah dukun sakti untuk meramalkan dan mencari obat kabut kesedihan itu; dukun sakti Guru Pakpak Pitu Sedalanen. Ditenung dan diramallah masa depan keluarga si Raja Purba. Guru Pakpak Pitu Sedalanen mengatakan bahwa kelahiran putra bungsu Raja Purba memang membawa sial dan malapetaka buat keluarga Raja Purba. Oleh sebab itu, putra bungsu harus disingkirkan atau dibuang jauh dari keluarga Raja Purba. Bahkan mereka menyarankan agar jangan diakui lagi sebagai anak keturunan Raja Purba.

Oleh karena itu Raja Purba menyerahkan kepada dukun sakti, Guru Pakpak Pitu Sedalanen bagaimana baiknya. Akhirnya, diambillah keputusan: putra bungsu akan dibuang dan diasingkan jauh dari keluarga raja Purba. Guru Pakpak Pitu
Sedalanen yang akan menemaninya selama perjalanan. Saat ia disingkirkan,
putra bungsu itu baru berumur 13 tahun. Dia dibawa jauh dari daerah
Simalungun dengan melewati Gunung Barus ke arah matahari terbenam.
Betapa terbenamnya hati putra bungsu ke dalam duka sedih yang sangat
menyayat hati, melebihi rasa sakit yang diderita saat dicucuk onak dan
duri sewaktu berjalan melalui rimba raya yang lebat itu.

Setelah beberapa hari dalam perjalanan, tibalah mereka pada suatu tempat yang datar yang dirasa cocok sebagai tempat pembuangan dan pengasingan si

putra bungsu. Dibuatlah gubuk untuk tempat si putra bungsu. Setelah
gubuk itu selesai, pulanglah dukun sakti Guru Pakpak Pitu Sedalanen.
Maka menangislah putra bungsu meratap kepada sang dukun sakti, agar ia
jangan ditinggalkan, dipeluknya kaki dukun itu, dan disembahnya berkali –
kali disertai deraian air mata. “Oh kakek… jangan tinggalkan aku…
jangan… kasihanilah aku…, oh… sampai hatikah kakek meninggalkan aku
sendirian di sini…? di tengah hutan tua rimba raya ini, penuh binatang
buas. Oh… daerah tak bertuan…, siapa kawan yang akan menjagaku di sini
Kakek…? Apakah sebenarnya salah dan dosaku sehingga aku harus dibuang
dan dijauhkan dari sanak saudaraku?... oh…. Kakek….?

Setelah mendengar ratapan itu, dukun sakti Guru Pakpak Pitu Sendalanen itu pun tak dapat membendung air matanya, dia jadi kasihan kepada anak malang

itu. Diusap – usapnya rambut dan kepalanya sang putra bungsu itu seraya
perlahan – lahan memberi penjelasan. “Yah…, sungguh kasihan kau Nak…,
nasibmu sungguh malang, tetapi apa boleh buat, nasib dan takdirmu sudah
disuratkan demikian…, kau harus dibuang dari sanak saudara dan
keluargamu… Sejak saat ini kau tidak boleh lagi mengakui mereka itu
sanak saudaramu atau keluargamu…, kau harus hidup menyendiri… Pandai –
pandailah hidup… Kau harus tinggal di sini sendirian. Kau tak usah
takut… Kami telah menyediakan perbekalanmu untuk tujuh tahun. Setelah
itu, kau harus cari sendiri. Ini pedang, pisau dan panah untuk menjaga
dirimu, dan kau tidak usah takut akan binatang buas, di sekeliling
tempat ini akan kami tanam bambu sebagai pagar.”

Setelah Guru Pakpak Pitu Sedalanen selesai berbicara, dia menancapkan tongkatnya ke tanah sehingga memunculkan tujuh buah mata air disitu, kemudian mengurung tempat tersebut dengan tanaman bambu kuning berduri, lebat dan rapat dengan maksud agar sang putra bungsu tak dapat lari atau kembali ke Simalungun dan terhindar dari serangan binatang buas.
(Tempat itu sekarang masih ada. Kini dinamakan Buluh Duri dan dihiasi tujuh mata air bening di Lau Gendek Berastagi. Tempat tersebut masih dianggap

keramat oleh masyarakat sekitar).

Setelah semua tugasnya selesai maka Guru Pakpak Pitu Sedalanen beranjak pulang dan meninggalkan putra bungsu Purba mergana sendirian terkurung oleh pagar bambu berduri.

Mereka melanjutkan perjalanan pergi berkelana ke Tanah Karo.

Bertahun– tahun Purba mergana itu hidup menyendiri di balik pagar bambu

berduri. Pada waktu senggangnya, ia belajar memanah dan memakai senjata –
senjata lainnya sebagai bekal untuk berburu kelak apabila perbekalan
yang hanya tujun tahun itu habis. “Kelak… sampai kapan pun aku tak akan
pulang kembali kepada mereka, sanak saudara dan keluargaku itu, begitu
sampai hati mereka membuang aku merana begini,” pikirnya. Bulan berganti
bulan, tahun berganti tahun…, akhirnya sampailah sudah tujuh tahun dia
menyendiri di situ dan perbekalan yang tersedia pun sudah habis. Oleh
sebab itu, dia harus dapat keluar dari pagar bambu berduri tersebut agar
dapat berburu ke hutan. Secara terpaksa mulailah ia merintis pohon –
pohon bambu berduri itu agar dapat lewat keluar mencari binatang buruan.
Kini, dia telah cukup dewasa, gagah dan kekar. Ia tak perlu takut akan
binatang buas. Dan setelah mendapat binatang buruan, ia pun segera
kembali ke gubuknya.

Demikianlah hal tersebut berlangsung sampai beberapa tahun hingga pada suatu hari, sewaktu hendak berburu seekor burung yang cantik berbulu warna – warni, ia telah sampai ke Gunung Singkut tanpa diduga – duganya. Hal ini terjadi karena burung yang diincarnya telah membuatnya penasaran sebab sang burung selalu berhasil mengelakkan panah si pemburu dengan cara melompat dari satu pohon ke pohon lain sampai ke arah Gunung Singkut. Dalam perburuan burung itu, tanpa disadarinya tiba – tiba matanya melihat sesosok tubuh wanita cantik yang sedang duduk dan mengeringkan tubuh dan rambutnya dekat sebuah mata air yang jernih dan bening. “Apa maksud Tuan datang kemari?” tanya wanita cantik itu seraya tersenyum manis kepadanya. Purba mergana hanya melongo tak dapat menjawab karena terlampau kaget menemukan wanita di tengah hutan lebat itu dan malah tiba – tiba telah dihujani pertanyaan oleh wanita secantik bidadari dari kayangan itu.

“Mengapa diam saja, Tuan?” tanya wanita itu lagi, karena merasa pertanyaannya tidak dijawab oleh Purba mergana, sang pemburu tampan dan gagah itu.


“Oh… oh… tidak,” kata Purba mergana tergagap – gapap. “Aku terkejut
melihat ada wanita sendirian di tengah hutan lebat begini,” sambungnya
lagi seraya memberanikan diri menghampiri wanita cantik itu. Wanita
cantik ini adalah manusia pertama yang ditemuinya sejak tujuh tahun
lebih di pembuangan Tanah Karo. Kemudian mereka pun bercakap – cakap
dengan akrabnya. Purba mergana kemudian menceritakan bagaimana dia bisa
sampai ke gunung itu dan juga menceritakan tentang dirinya sebagai anak
buangan dari Raja Purba di Simalungun. Sang Puteri mendengarkan dengan
penuh perhatian dan juga merasa tergugah hatinya mendengar kisah sedih
Purba mergana tersebut. Karena terlalu asyik bercerita, mereka pun tak
menyadari bahwa hari telah siang, matahari telah lewat tengah hari,
perut pun sudah terasa lapar dan minta diisi.

“Ayolah mampir dulu ke rumah kami untuk makan,” ajak sang puteri kepada Purba mergana, pemburu gagah dan tampan itu. Dia juga tak akan keberatan walaupun untuk selama – lamanya berada bersama puteri cantik bak bidadari dari kahyangan tersebut. Baru beberapa langkah, tibalah mereka di sebuah gua

yang cukup bersih, gua itu tak jauh dari tempat pertemuan mereka tadi.
Mereka masuk ke dalam gua dan Purba mergana tiba – tiba terkejut bukan
kepalang; hampir melompat apabila tidak dipegangi oleh sang bidadari
karena di dalam gua yang samar – samar tersebut terdapat seekor ulang
besar tetapi pendek yang sedang melingkar seakan – akan sedang menanti
kedatangan mereka berdua. Di dekatnya di atas batu, bertenggerlah burung
yang tadi diuber – uber oleh Purba mergana. Burung kakak tua – yang
dalam bahasa Karo disebut Kak, berbicara “Silakan masuk, duduklah.” Ini
membuat si Purba mergana terheran – heran sedangkan sang bidadari hanya
tersenyum – senyum saja sambil menghamparkan tikar untuk tempat mereka
duduk.

Setelah mereka duduk, mereka pun makan bersama dengan menu

beberapa buah – buahan seperti jambu, pisang dan lainnya. Sembari
makan, sang bidadari bercerita bahwa ular itu adalah ibunya dan burung
itu adalah ayahnya yang sengaja memancing Purba mergana datang ke Gunung
Singkut guna merencanakan perjodohan antara Purba mergana dengan sang
bidadari yang cantik jelita. Setelah tercapai kata sepakat, maka Purba
mergana dijodohkan dengan sang bidadari sebagai suami – istri yang kelak
menjadi SEJARAH NENEK MOYANG PURBA MERGANA DI TANAH KARO. Orang tua sang bidadari menyarankan agar mereka hidup bersama manusia lainnya dan menempuh cara – cara hidup manusia, yaitu tidak terpencil dan tidak
mengasingkan diri di Gunung Singkut maupun di Buluh Duri tempat Purba
mergana.

Sesudah merasa cukup memberikan petuah – petuah dan wejangan, Purba mergana dan sang bidadari yang telah menjadi suami –istri disuruh berangkat ke perkampungan manusia terdekat oleh mertuanya itu. Sayup – sayup mata memandang, tampaklah bumbungan asap dari Gunung

Singkut, yakni di sebelah barat daya kampung Kaban, yang dihuni oleh
Merga Kaban dan Ketaren. Keesokan harinya berangkatlah Purba mergana
bersama istrinya ke kampung Kaban dan setelah sampai di sana mereka pun
menemui penghulu kampung untuk meminta izin mendirikan rumah di kampung
tersebut. “Kalau Anda mau menjadi warga kampung ini, kami terima dengan
baik dan bangunlah barung kalian ke arah Kenjahe. (Maksudnya dirikanlah
rumah ke arah hilir dari kampung tersebut). Sejak saat itu, berdirilah
gubuk mereka di kampung Kaban arah Jahe (kini dikenal dengan nama
Kabanjahe, Ibukota Kabupaten Karo), dekat sebuah pohon besar yang
memiliki mata air sendiri. Konon, apabila Mami Purba mergana datang, dia
berada di lubang pohon kayu besar tersebut dan Purba mergana beserta
istrinya akan membalas kunjungan mertuanya ke Gunung Singkut.

Selama menetap di Kabanjahe mereka dianugerahi enam orang anak laki – laki dan seorang anak wanita sehingga Purba Mergana di Tanah Karo diberi julukan

“Purba Si Enem” dan kepada keturunannya diperingatkan pantang membunuh
ular, sehingga sampai sekarang Merga Purba di Tanah Karo sangat
dipantangkan untuk memukul atau membunuh ular. Juga diperingatkan agar
mereka juga jangan pernah mengaku berasal dari merga Purba Simalungun
dan jangan memberi malu kepada Raja Purba Simalungun, sebab mereka sudah
dibuang dari dinasti merga Purba Simalungun tersebut. Para wanita yang
beru Purba juga terlahir cantik – cantik karena mereka keturunan dari
bidadari.

Lama – lama barung tersebut berubah menjadi perkampungan sendiri milik keturunan Purba mergana dan diberi nama Kabanjahe. Rupanya para keturunan Purba mergana mengembangkan kampung tersebut dengan mendirikan barung – barung lainnya di sekitar barung utama, sesuai dengan nama mereka masing – masing, yaitu Katepul, Samura, Ketaren, Berhala, Sumbul, Kaban, Raya, Berastagi, Lau Gumba, Peceren, Daulu dan Ujung Aji, serta menyebar ke seluruh penjuru Tanah Karo. Demikianlah asal usul mengenai Purba mergana di
Tanah Karo dengan perkampungan mereka yang pertama di Kaban arah Jahe,
yang termasuk salah satu marga termuda di daerah Karo pada umumnya dan
di daerah Urung Sepuluh Dua Kuta pada khususnya.
Daftar silsilah Raja Purba Pakpak di Pamatang Purba, Simalungun

1. Tuan Pangultop Ultop (1624-1648)
2. Tuan Ranjiman (1648-1669)
3. Tuan Nanggaraja (1670-1692)
4. Tuan Batiran (1692-1717)
5. Tuan Bakkaraja (1718-1738)
6. Tuan Baringin (1738-1769)
7. Tuan Bona Batu (1769-1780)
8. Tuan Raja Ulan (1781-1769)
9. Tuan Atian (1800-1825) dan adiknya Tuan Horma Bulan (1826-1856)
10. Tuan Raondop (1856-1886)
11. Tuan Rahalim (1886-1921)
12. Tuan Karel Tanjung (1921-1931) dan adiknya Tuan Mogang (1933-1947)
13. Tuan Maja, mantan Bupati Simalungun, Tapanuli Utara, Walikota Pem. Siantar, dan Gubernur Muda Sumut.
14. Tuan dr. Darwan Maja, mantan Ketua DPP PMS

Hingga hari ini jumlah generasi Purba Pakpak di Simalungun sudah mencapai 16-17 generasi.

Friday, April 19, 2013

Mengapa Sarang Ginting Dolog Masihol Kab Simalungun dikaitkan Dengan marga Ginting

Masrul Purba Dasuha
Siapa di antara kita yang berasal dari kampung Naga Saribu, Saribu Jandi, Tambak Bawang, Bawang, Ujung Bawang, Simeluk, dan Tanjung Purba atau yang pernah berkunjung ke sana. Sebab katanya perkampungan yang saya sebutkan ini didirikan oleh orang Karo. Bahkan kampung Saranggiting (sebesar lebah) yg ada di Dolog Masihol juga mereka akui sebagai kampung Karo. Orang Jawa yg ada di tempat itu menyebutnya Sarang Ginting. Jadi karena perubahan nama ini kemudian dikaitkan dengan marga Ginting. Naha do hita on lhoe.
  • Riahdo Purba Pak Pak songon malasya vs indonesia hita on tene.. PSM ma paluruskon ai. tp ulang salah sobut hita, oknum / individu ni sidea do namanobut ai manang halak karo ???
  • Posman Purba Tanjung cuba ham ma i telisik lobei,anggo hu dingat hata oppung nami thn 80an.Daerah ni ai i sobut do"SI RANGGITING" tp nuanon berubah gabe,,saranggiting,,anggo i klaim halak koro ai,na ritik do ai se pala itanggapi.
  • Djaja Surapati Saragih Ipungkah ma manurat hon sejarah ni hutani bei. Atap mulak hita tikki ari raya, natal/th.baru, pakei hita patumpuhon informasini. Apala ai ulihta bei bani hutanta. Ase anggo roh nalegan mangkatahon nageluk, mintor boi hatahonon bani :" basa buku on ningon".
  • Domu Chayagih Sumbayak inang ku par Saranggiting.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Menurt na hu tangar, siranggiting hinan do ai.
  • Masrul Purba Dasuha Riahdo Purba Pakpak. Tongon do nimu ai, mulani do pandapotni sahalak dobni ai manyebar ma ai jadi pambotohni publik, janah irekayasa ma sarita ase iporsayai publik nokkan. Kan domma intrikni ekspansi ai, dos do homa pakon halak Malaysia deba do hassa na mangklaim ai tapi pemahaman ai kan markembang. Sanina Posman Purba Tanjung. Tongon do ai dahkam, baru ingat au dong kinan do Tuan Siranggiting bawahanni raja Dolog Silou. Bangun Purba pe domma iakui sidea sbg wilayahni age domma jelas dong embel2 Purbani.
  • Masrul Purba Dasuha Kela DJS. Seng sukkup huahap ai kela, halani domma dong buku na terbit patorangkon ai, na jadi landasanni sidea sonari ihuta-huta na husobut ai marbudaya pakon marsahap Karo do ijai janah halak Simalungunni pe domma salih jadi halak Karo. Rumah adat pe ijai arsitektur Karo do jadi aha nari landasatta lahou mangukuhkon ai sbg hutani Simalungun. Lawei Alie Saragih, eak tongon do nimu ai. Tokkin nari Siattar pe ihatahon sidea tanah Karo halani dong Kampung Karo ijai.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Ulang urah tu porsaya lawei.
    Lang dah kam amerika,arab,mesir,dll pe i atahon sidea pantukan ni oppung sidea do?
    Nai2 do ai ganupan.
  • Posman Purba Tanjung Halani ai do ase hu hatahon jolma rittik do na manobut ai'Sarang ginting' dangkal sekali pambotoh ni sidea,tp torih hita gan peta terotorial Pemda Simalungun pakon draf Administrasi kependudukan Siranggiting ai,atap nuan on dop i rombak use saranggiting ???.
  • Riahdo Purba Pak Pak hal" sisononpe namin porlutumangdo mittor itanggapi pemda simalungun tene ase ulang berkelanjutan holi gabe payah patorsaon, masalah parbaloganpe boido gabe sumber porangda tene apalagi sonon boido gabe adu gengsi use antar suku. ulang namin pitah proyek mintor podas itanggapi, keutuhanni teritorialpe porludo maningun jelas. hita on poripe peduli bani sukuttaai halani lang jalurta ijai payahdo mansampuri homa nahama nitta ???
  • Posman Purba Tanjung i anggap hita ma lah songon cerita"karo tempe opo karo tahu" i hata hon sidea parJawa ganup asal na hun karo,nae ma kira2 cerita siranggiting on.hakakakakakakakakak...!
  • Jantri Girsang Paling na mencoba do sidea ai dahkam sanina ase sonaha do tongon gebrakan ni simalungun on,atik boi do tongo ibaen cara songon carani malasia ai mangklaim milik negara lain.tapi anggo na jelas hita p lang boi mampartahanhon ra mage ihatahon sidea holi tongon,anggo pasal bahasa ni sidea ai lumrah do ai banta halsi halani hita boi hatahonon lebih cpt tau bahasa ni halak,apalagi haganup daerah ai teermuk do ra daerah perbatasan antra sim' dan karo,maklumi hita malobe sampe ija sidea,ai do anggo hunbakku Par N.saribu.Horas!!!
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Dong do hape par naga saribu muncul.
    Naha do tongn i huta ta in lawei.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Ai mase nasiam maradat karo,bhs karo?
    Dong do gelah ijin na maradat simalungun?
  • Yosua Salang Say Effendy .

    wah ,.... hebat juga omz Masrul Purba Dasuha
    jadi bahan pembicaraan di
    https://www.facebook.com/groups/111151892321343/
    • JAMBURTA MERGA SILIMA RAS BERU SILIMA : 1.Karo-Karo 2.Ginting 3.Tarigan 4.Perangin-angin 5.Sembiring ................................. Jen...
    • 2,711 members · Join Group
  • Posman Purba Tanjung adon halak aha use on Josua Salang say Effendi karo perbatasn do atape karo totok mase imasuki homa ranah MEDIA SIMALUNGUN on,i padarat ma manggeori do hassa kin ai.
  • Yosua Salang Say Effendy .

    tolong ditranslate dengan bahasa indonesia
    Omz Posman Purba Tanjung
  • Karles Hasiholan Sinaga Lawaei Posman PT, group FB karo lagi gempar 2 minggu terakir ini. Terutama group yang fokus pada sejarah. Updetan dari teman dari Karo.
  • Nikolas Saragih Munthe Horas, Habonaran do Bona!!
    Lawei Masrul Purba Dasuha...yang saya hormati, ijinkan saya memberi tanggapan sedikit berkaitan dengan status Lawei ini. Namun sebelumnya perlu saya tekankan bahwa:
    1) Sengaja saya pakai bahasa nasional supaya dimengerti 100% oleh semua anggota group ini.

    2) Saya juga masuk dalam group Jamburta Merga Silima (JMS) seperti postingan saudara Yosua Salang Say Effendy si atas. Tujuan saya masuk group JMS adalah mau memperluas wawasan kebudayaan yang saya rasa masih sempit, sekali lagi hanya itu...dapat dibuktikan dengan komen-komen kecil saya di sana.

    3)Marga saya MUNTHE ada di beberapa puak diantaranya puak: simalungun, karo, toba, gayo,mandailing, eropa (norwegia), dll....tapi saya tetap mengatakan: saya par-simalungun karena saya lahir-besar dan terlebih mar-AHAP simalungun sekaligus tetap menghormati dan merasa "bersaudara" dengan MUNTHE lain dari puak mana saja sekalipun ada yang mengklaim puak kami aslinya puak kalian seken...dst...tidak berpengaruh bagi saya.

    4) Situasi pembicaraan seperti tema status Lawei ini sangat hangat di sana, saya mengikuti semua pembicaraan walaupun hanya sebatas penyimak aktif.

    ## Pertanyaan saya untuk Lawei: apa tujuan Lawei membuat postingan dengan tema seperti di status ini??

    Mengapa saya bertanya demikian? Karena:

    1) Di group JMS saudara Karo akhirnya begitu gencarnya membicarakan ini....dan bagi saya yang mengerti bahasa karo sebenarnya sangat tidak enak mendengarnya sebagai par-simalungun. Bisa dimengerti karena mereka merasa: ada yang mengklaim bahwa beberapa marga orang Karo berasal dari Simalungun. Jelas mereka tidak terima. Menurut teman-teman di JMS bukan mereka yang memulai, kalau begitu siapa??

    2) Situasi di group Media Simalungun ini juga hampir mengarah seperti di group JMS yang menurut saya teman-teman si group ini yang memberi tanggapan belum tentu mengerti 100% duduk perkaranya hanya karena terbawa emosi sebab ke-simalungunanna seolah-olah diusik.

    Oleh karena itu, saran saya kepada teman-teman yang memberi komen di sini: PAKAILAH BAHASA YANG SOPAN-BERMARTABAT-MENGHARGAI-MENGHORMATI SUKU BANGSA LAIN KARENA KITA SAMA-SAMA ORANG INDONESIA TANPA MENGUSIK HARGA DIRI SUKU BANGSA LAIN. Karena seperti kita ketahui...dunia sempit dan tanpa batas sekarang.

    Kekuatiran saya, maaf ini hanya sebatas kekuatiran saya ya. Jika tidak berkenan saya siap menghapusnya.

    Jika tema status ini diperpanjang-diperdalam-diperlama-diperluas....TIDAK AKAN PERNAH SELESAI.....mari kita belajar dari daerah PALESTINA di Timur Tengah......siapa yang buntung dan siapa akhirnya yang untung.

    Dan di daerah lain di Indonesia ada juga contohnya seperti suku-suku pedalaman di Papua...dll.

    Maka, usul saya adalah biarlah yang menyelesaikan perkara seperti ini badan resmi di pemerintahan atau bidang kebudayaan.

    ## saat ini kita hidup damai sejahtera bertetangga-berdampingan, mari tetap kita pertahankan-kita perjuangkan.

    Untuk daerah-daerah PERBATASAN kabupaten Simalungun dan tanah Karo....sangat sensitif tema ini diangkat......saya kuatir...saya kuatir...

    Demikian...horas...mejuah-juah, habonaran do bona, sapangan bei manoktok hite....

    Teman-teman pembaca Media Simalungun....mohon maaf jika ada yang kurang berkenan...
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Bkn masalah perbatasan ky ny.
    Tpi masalah sipukah huta di satu huta di simas.
    Itu lah krn gampang salih2 itu.
    Mereka hanya bisa menilai dan melihat secara kasat mata saja.
    Mk sy blg kembali par simas k simalungun sesungguhnya.

    Walaupun sebenar ny gk da yg mulai, di dalam internal mereka itu sdh berkembang.
  • Nikolas Saragih Munthe Daerah perbatasan itu akan menjadi ajang persetetuan yang pertama jika terjadi "sesuatu". Awalnya.....mereka merasa terganggu dan risih karena ada yg meng-indoktrin-kan bahwa beberapa cabang merga silima asalnya dari simalungun dan seolah-olah dipaksakan, (walaupun mungkin benar......tergantung sudut dan kepentingan pandang) mereka tidak terima, contoh tarigan girsang/tarigan gersang dari mana asalnya?? ....Jika asalnya dari nagasaribu.....berarti sipukkah/simajeki huta itu adalah orang karo.
    Jadi.....klaim sipukkah huta hanyalah turunan dari klaim asal-usul marga tadi, bukan perkara pertama.....tapi kedua......kita perlu memosisikan perkara dengan jelas.......saya tetap netral yang mar-ahap simalungun.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Jd raja silimakuta yg berpamatang d naga saribu dlu org karo begitu?
    Jelas2 raja silimakuta marga girsang bkn tarigan gersang.
    Dari dulu hingga sekarang.
    Mereka tdk sampai ke situ tpi mereka hanya melihat adat budaya yg terjadi di simas.
    Krn bagi mereka itu saling berkaitan dgn simantek dn kebiasaan.
    Sementara yg terjadi d simas itu adalah hasalihon ni halak simalungun.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Pertanyaan sy, knp dokumen2 belanda dlu tdk mengatakan bhw marga tarigan gersang raja silima kuta, knp tdk tarigan tambak raja dolok silou?
    Kita punya dokumen sementara mereka hanya bermungkin2.
    Apa segampang itu dlu org yg datang ke kerajaan simalungun manteki kuta dan tdk msk marga raja?
    Berarti kan jelas kesalihan td?
  • Nikolas Saragih Munthe Tolong dibaca kalimat seutuhnya....tidak terpotong-potong artinya akan terpotong juga.....hehehe
    Tolong jangan mempermainkan kalimat saya......hehehe
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Intinya di situ.
  • Nikolas Saragih Munthe Saya sependapat dengan komen sanina AS ini.....bahwa ada banyak situsi salihan di simas....hanya kita berkoar-koar di tempat yang kurang tepat........yg bisa berdampak pada penduduk diperbatasan....
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Mereka jg tdk mengamini asimilasi budaya di simas.

    Sebenarnya tergantung sifat suatu suku memang.
    Klo memg sebagian sub merga silima dr simalungun emg kenapa?
    Toh jg setiap marga di setiap suku gk semuanya asli dr daerah itu.
    Sama halnya dgn sanina munthe, klw org toba dan karo mengatakan munthe dr mereka gk da masalah bg org simalungun.
    Emg iya kok.
    Bgt jg kumpulan dr marga parna yg msk saragih.
    Org toba mengatakan dr toba.
    Emg iya kok.
    Benar itu.
    Gk da masalah bg simalungun.
    Klo emg benar ya benar.
  • Karles Hasiholan Sinaga Mohon informasi yang disampaikan jangan sepotong-sepotong, sebagai Admin saya meminta Lawei Masrul Purba Dasuha untuk lebih menyampaikan cerita yang lebih detail tentang statement dari saudara kita karo di atas.

    Sehingga semua anggota Media Simalungun, mendapatkan informasi yang lebih jelas, bukan sepihak dan terpotong.

    Hematnya, jangan sampai masing-masing orang membangun opini pribadi, lalu beralibi dan berasumsi atas dasar data dan fakta yang kurang lengkap.

    Dan akhirnya merugikan semua pihak.
    diateitupa.
  • Jantri Girsang Kalau di nagasaribu belum pernah,saudara kita karo yang menyatakan demikian lawei AS malah yang kita tau selama ini yang punya embel embel marga tersebut(contoh nya tarigan girsang) mereka mengakui dari satu desa simalungun(n.saribu)dan merekamereka juga mengaku orang simalungun kok,tapi yang perlu jelas tadi yang mengklaim desa tersebut saudara kita karo belum pernah.tapi seandainya juga ada itu kan boleh di telusuri menurut penuturan dia.yang penting orang tersebut tdak mungkir dari perkataan nya.contoh nya kalau ginting mengaku kampung asalnya dari n.saribu itu perlu dia. Jelaskan dulu sama dengan postingang sanina ku diatas.yang penting turi2an jelas lang naido lawei?
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Mereka mengakui dr naga saribu lawei.
    Tpi berdasar teritorial bkn berdasar geneologis atw etnisitas.
    Mereka mengatakan, klo bkn org karo yg mantek itu kuta, kenapa rmh adat nya karo,bhs karo,adat budaya karo,mitos jg ada. Ak gk tau mitos apa itu.
    Mereka mengakui berdasar teritorial sj dr simalungun sebab taneh karo luas hingga ke si5kuta.
    Bedakan kab simalungun dgn etnis simalungun kt mereka.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Ya yg blg itu memang bkn org yg tgl d naga saribu tpi org2 luar yg merasa nenek moyang ny perantau dr naga saribu atw daerah lain nya di simas.
  • Jantri Girsang Tapi kalo dinagasaribu biar n moyang nya perantau belum pernah saya dengar itu,apalagi soal Rumah adat nya, itu juga beda ,apalagi bahasa,cuman kalo bahasakaro di daerah simas itu sudah tidak awam lagi.jadi kalau ada orang bukan simalungun mengaku dikampungnya sana mempunyai asal dari naga saribu sah sah aja lawei.tapi bukan menklaim bahwa mereka yang sipukkah huta disa.gitu nggak lawei A.S.?
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Bhs apa nya di naga saribu itu lawei?
    Yg paling sering digunakan?
    Ada nya kerja tahun di situ?
  • Masrul Purba Dasuha Sebekum saya tanggapi, baiknya dibaca dulu keterangan yg ada pada link ini: http://blog.petrabarus.net/2007/07/budaya-karo-sejarah-marga-marga/
    blog.petrabarus.net
    DISCLAIMER: Daftar sejarah Karo yang saya tulis di bawah ini lima tahun lalu, semuanya saya copy paste dari situs resmi Organisasi Pemuda (yang sering dikenal dengan nama Permata) Gereja Batak Karo...
  • Masrul Purba Dasuha http://blog.petrabarus.net/2007/07/budaya-karo-sejarah-marga-marga-2/
    blog.petrabarus.net
    Mejuah-juah! Lanjutan tentang sejarah marga-marga Karo bagian 1. Kali ini rada menarik menurut gw, sih ^_^ Selamat membaca! Merga Sembiring Merga Sembiring secara umum membagi diri menjadi dua kelo...
  • Jantri Girsang @A.S bahasa simalungun lawei.janah lang masa ijai na igoran kerja tahun ai.
  • Posman Purba Tanjung Hahaha,malas tumang uhur marmacam karacter ni na marpostingan ondi adong sipalam-lam,dong homa sipanggarai.tabi hu banta marhata karo ma lobei mambalosi Salangsay Effendi ai.
  • Posman Purba Tanjung @Josua Salangsay Effendi,sentabi erbelas ate ku nungkn man bandu merga kai kin kam ? Sebabna mesera kuakap ngaloi ranandu adi la lit tutur antara kita.jd tolong translite Om nindu ka,ku akap nge angkai ndu cakap simalungun,sebabna imasukindu ranah Grup Media Simalungun. bagi aku dah ndu labo aku masuk ku grupJMS erkitekn lenga ku akap pas postingen si ajuken kena i JMS la mawen er dasr argument,e maka ku grup MS pe maka labou ka argmnt si posting ndu.e maka ningku man admin MS pedarat saja adi la angkaisa ckp simalungun lanai bo kari rorat e ningku,sebab pengalamn si ku simak adina kalak simalungun nyodorken argument ope denga terjawb kena alu argumen minter iban kena jawabn.,narune lebe,landek kita lebe,ngopi kena,ban teh manis dingin,tama ras ginsengna,.bage-bage conth2 si kurang ku akap oratna.adi ercakap karo nindu ras aku ise pe ku alo,entah pe anding-anding bahasa karo nindu siap aku ngaloisa tp bahanlah cakap si rorat e maksudku ia. Sekale ka iah nta ku kurung ka lebe manok ta ah lit je dua indung..
  • Karles Hasiholan Sinaga Aloken yah silih Yosua Effendy, makana landek kita
  • Posman Purba Tanjung Nggo ku lipo manuk ta nda,si terosken@Josua Salangsay Effendy.aku lalap la erkesehen tutur ei,Siksik min lebe makana tindes' nina tua-tua si arah lebe,emkap ia lenga lalap ertorosen percakapenta ja nge kap ter tindes.ertikendu ia segedang-gedangna em lebe iah.
  • Rajin S Saragih domma marbahasa karo hita on tene i willayah media simalungun...menarik utk ipardiatei...
  • Masrul Purba Dasuha Baik saya rasa link yg saya tunjukkan itu sudah dibaca dan dipelajari. Saya akan mencoba menjawab rasa penasaran Lawei Nikolas Saragih Munte, begini lawei ham tentu tahu watak orang Simalungun seperti apa. Sifat tenggang rasanya tinggi, punya banyak kekuatiran, sering menjadi lemah ketika berinteraksi dengan suku lain, dan rasa persatuan/kekompakannya kurang. Jadi kalau ham tanya siapa lebih dulu yg menyulut api, tentu dengan tegas saya katakan "MEREKA". Takkan mungkin ada asap kalau tdk ada api.
  • Masrul Purba Dasuha Agar lawei ketahui sejak tahun 50-an dimana orang Karo mulai menggiatkan tulis menulis dan memproduksi buku baik dlm bentuk kajian budaya maupun sejarah. Dalam buku-buku tsb mereka sudah mulai melakukan pengklaiman atas sejumlah daerah Simalungun mulai dari Deli, Serdang bahkan Kabupaten Simalungun sendiri. Tanpa berlandaskan tinjauan historis yg kuat mereka berani melakukan itu, namun orang Simalungun diam saja dan belum pernah saya dengar ada yg mempersoalkan itu bahkan hingga hari ini.
  • Masrul Purba Dasuha Ketika saya membuat suatu gebrakan utk meluruskan hal ini justru tidak mendapat dukungan malah terjadi pro kontra bahkan dari 5000 lebih penghuni grup ini, hanya segelintir saja yg mau ambil bagian dalam diskusi ini dan hanya 5 orang saja yg mendukung pernyataan saya dlm bentuk memberikan jempol. Sudah cukup banyak buku sejarah Karo yg saya baca lawei dan saya sangat risih dan gerah ketika melihat kontennya banyak menjarah hak-hak org Simalungun mulai dari teritorial, memanipulasi sejarah, dan nilai budaya.
  • Masrul Purba Dasuha Mereka itu sangat kompak tidak seperti kita ini, awalnya saya berdebat tajam hanya dengan satu orang dari mereka, yaitu Juara Ginting yg katanya seorang antropolog jebolan dari Leiden. Namun ternyata keilmuannya itu tak berdaya ketika ia berhadapan pada fakta yg sebenarnya. Ia kemudian memprovokasi pihaknya utk ikut memandang negatif pada saya, satu menyerang yg lain ikut tanpa terlebih dahulu mempelajari duduk persoalannya. Ia membuat cerita palsu yg lain pun percaya, begitulah kekompakan mereka.
  • Yosua Salang Say Effendy .

    ginting munthe bbre sembiring kembaren kita omz Posman Purba Tanjung ,..... uga dhage orat tutur`ta ? kata`ndu siikut ikut

    _/\_

    soal link saya itu ditujukan buat omz Masrul Purba Dasuha kok ,...
    jadi maaf jika menyela thread postingan yg ada .

    bujur sope lengana man omz Posman ,.... apakah harus yg masuk group ini harus tahu bahasa simalungun ?
    dan menurut yg kita lihat disini juga banyak yg ber suku simalungun tetapi tidak tahu berbahasa simalungun ,..

    hmm ,... kembali ke JMS , saya sendiri bukanlah satu dari anggota group tsb , sebab saya juga heran dengan mereka , mengaku karo bukan batak namun tanpa sadar / sadar mereka memakai apa yg sering dipakai oleh "BATAK"
    sedangkan yg dimaksud "BATAK" sendiri gak tahu jelasnya apa .

    sayangnya omz masrul mau mengetahui "sesuatu" tersebut dengan cara pandang pribadi ,... bukan mempertimbangkan keterangan yg ada .sehingga yg "dilirik" merasa dilecehkan ,namun sayangnya lagi yg menjadi "pandangan" juga sebatas keinginnannya oleh karena ego pribadi .[ula belasken kata tuhu tp cakapkenlah kata tengteng ,...tp si payo e labo tuhu tengteng]

    saya salut dengan kegigihan omz masrul purba dasuha berani mempertahankan cara pandangnya ,...

    tetapi "kita" harus mencermati kalimat "melempar umpan kecil untuk mendapatkan ikan besar ,....
  • Masrul Purba Dasuha Agar ham tahu ya foto Guru Raya Borahim Purba Dasuha pun pernah dimuat dalam buku mereka, saya lupa pengarangnya judulnya Sangkep Nggeluh. Saya sempat berdebat dengan salah seorang dari mereka saat saya melihat foto ini ditampilkan pada buku tsb yg dibawahnya diberi keterangan "Guru Karo". Saat itu saya melihatnya di perpustakaan USU dan ketika saya katakan pada orang tsb bahwa itu adalah foto Guru Raya, dia malah menyangkal dan balik menyalahkan saya. Apakah hal seperti ini patut kita diamkan.
  • Karles Hasiholan Sinaga Salah satu pentolan Sorasirulo (majalah cetak maupun online) adalah br. Silangit kalau tak salah informasi yang aku dapat dia tinggal di Serdang Bedagai.
    Jadi kalau bicara Simalungun Bawah, dia pasti sangat paham.
    Kemadian yang dari Atas ada J Ginting (kalau tak salah pentolannya ini adalah dari Ajinembah marga Munthe -- ini lawei Brayan Munthe coba verifikasi).
    Mereka berdua adalah bagian kampanye Karo bukan Batak (kalau tak salah lagi).
    Mereka berdua sangat Paham Simalungun Toba Pakpak dan Gayo, Kluet, Alas (mengintip link yang dibagi silih Yosua Salang Say Effendy.
    Jadi perlu strategi khusus menghadapi mereka.
    Kalau main frontal mereka punya tim yang kuat sementara lawei berdua aja atau malah sendiri?
    Karo sangat heterogen, jadi pancing individu by individu, kalau lawei pukul rata maka seperti di media simalungun ini juga kasusnya.
    Contoh:
    Tarigan yang awalnya bilang dia dari simalungun langsung diam seribu basa kalau sudah masuk Karo Asli atau Tidak.
    Karena mereka sungkan atau memang malas meladeni atau takut kepentingannya di ganggu.
  • Masrul Purba Dasuha Apalagi saya membawa nama pribadi, tentu karena kebenaranlah yg membuat saya berani. Banyak hal yg belum saya ungkapkan di sini mengenai bukti klaim mereka, saya rasa ini saja dulu dari saya. Dan coba direnungkan, ketika mereka mengklaim sejumlah wilayah Simalungun bagian dari budaya mereka, kita diam saja. Begitu giliran saya meluruskan malah saya dituduh mengklaim & menyulut SARA, apakah ini adil. Silakan ditanggapi bagi yg tidak berkenan, bagi yg ingin mendukung saya mari kita bergandengan tangan.
  • Karles Hasiholan Sinaga bukan sombong lawei lihat caraku "menculik" (maaf kalau agak kasar) satu persatu merga perangin, abis ngaku satu, kita lempar mungkin ada dari tempat lain? itu karena group itu bukan group karo.
    Kalau di group karo sama aja dengan disini, marga A yang di Bahas marga BCDEFGHIJKLM yang ribut (banyak kali ya...). Jarang Ada mau bertengkar untuk meluruskan.

    Hal yang paling kusesalkan dari Lawei Masrul Purba Dasuha dan Alie Saragih (maaf ini terang-terangan aja) bahwa di group yang lawei masrul buat dan saya sempat jadi anggotanya adalah lawei menerapkan cara apa yang Lawei anggap sebagai Tobanisasi 100% persis Lawei terapkan sebagai Simalungunisasi dimata Saudara2 kita karo.

    Maaf karena beberapa hari lalu saya kena introgasi kawan yang menganggap saya salah satu yang menggerakkan karena kebetulan dari link yang dibagi lawei Yosua Salang Say Effendy itu ada disebut sebut marga Bangun .

    Jadi angkapan kawan itu mungkin aku, sampai kemarin dia belum enak ngomongnya....
  • Yosua Salang Say Effendy .

    tolong dicermati & ditela`ah secara perlahan ya omz Masrul Purba Dasuha & omz Posman Purba Tanjung kalimat dan kata demi kata yg Yosua Salang Say Effendy sampaikan ,....
    mereka yg menjadi pentolan juga lucu banget dech ,....
    klo dibaca secara perlahan dan dicermati banyak artikel mereka copast dan direvisi kembali dengan retorika pribadi mereka ,.... ntah untuk tujuan apa ,.... saya tidak tahu .
    bukan asal meng`ia kan dulu kakek moyang kita mengatakan karo bagian "BATAK" ,... bukankah ada dinas kebudayaan & parawisata untuk mengarsifkan kenapa "karo adalah bagian dari batak" ? .
    coba tanyakan pada sang pentolan tsb ,.... apa sih yg dimaksud "tongkat tunggal panaluan yg mereka sering elu elukan dengan bangga pada konser karo bukan batak mereka ?
    hmm ,... seingat saya kata "TUNGGAL PANALUAN" tidak ada dalam perbendahara'an kosa kata karo ,... bahkan dalam pengobatan , datu / guru mbelin yg dipanggil dalam suku karo tidak lah pernah mengatakan tungkatnya adalah "tunggal panaluan"
    belum lagi soal si"umang ,.... dan banyak lagi artikel mereka sangat loecoe buangedz dech ,....

    _/\_

    mereka bukan paham
    lawe Karles Hasiholan Sinaga ,....
    coba kita tela'ah diantara kata
    "maklum"
    "faham"
    "ngerti"
    "tahu"
  • Masrul Purba Dasuha Mereka mengklaim itu dgn melihat kondisi kekinian bukan menilik pada tinjauan historisnya. Dengan membawa nama besar Haru mereka merambah kemana-mana, tdk hanya sebagian daerah Simalungun yg mereka klaim, termasuk juga sebagian tanah Pakpak, Alas, dan Gayo. Lawei Nikolas Saragih Munte tentu bisa mengamati hal itu pada grup mereka. Sejak tahun 50-an, Bangun Purba, Silindak, dan sejumlah daerah di Serdang sudah mereka klaim bagian dari Karo. Jadi jelas bukan saya mendahului, melainkan mereka sudah sejak lama.
  • Masrul Purba Dasuha Demikian juga Kedatuan Tanjung Marawa yg jelas-jelas didirikan oleh marga Saragih Sidasalak kerabat dari Kerajaan Padang, karena adanya kesamaan nama tempat di tanah Karo yg juga ada kampung bernama Tanjung Marawa, lantas mereka langsung mengklaim kedatuan Saragih itu milik mereka. Dan bisa saja Tanjung Marawa yg ada di tanah Karo juga didirikan oleh orang Simalungun. Dan terbukti ketika saya menanyakan sejumlah perkampungan di tanah Karo yg berbau Simalungun mereka tak mampu menjawab itu.
  • Masrul Purba Dasuha Seperti Brahma Putro dalam bukunya "Karo Dari Zaman Ke Zaman" malah mengatakan Nagur, Batak Timur Raja, dan Lingga di Gayo merupakan bagian dari Karo. Ketika saya menganalisa dari nama-nama perkampungan di tanah Karo dari aspek bahasanya mereka menyangkal. Padahal terbukti di Kecamatan Mardingding itu ada kampung bernama Bandar Purba, lain lagi kampung Bekerah, Bekilang, Bekawar, Gunung Manumpak, Gunung Marlawan, Tanjung Pamah, Gunung Saribu, dll semua ini adalah kampung yg berawal dari bahasa Simalungun.
  • Karles Hasiholan Sinaga mereka faham bagian yang bisa diputar2 bukan?
  • Karles Hasiholan Sinaga mereka faham bagian yang bisa diputar2 bukan?
  • Yosua Salang Say Effendy .
    hmm ,...
    makanya kita pakai "bulung siputar balik"
    melawan mereka yg "mutar - mutar"
    omz Karles Hasiholan Sinaga ,.........
  • Masrul Purba Dasuha Lawei Karles, cara kita memang beda, kalau saya berupaya meluruskan pendangan yg keliru ttg sejarah. Sementara anda menggiring mereka utk mengakui Si Raja Batak sebagai leluhur mereka. Tentu konsep yg kita terapkan sangat berbeda. Lawei Yosua Salang Say Effendi, terima kasih banyak lawei atas dukungan anda. Dan saya sangat setuju kalau Karo itu sesungguhnya termasuk bagian dari suku Batak. Lawei NSM, orang Karo itu sebetulnya segan pada orang Simalungun, tapi karena kita diam merekapun jadi merajalela.
  • Karles Hasiholan Sinaga Ha.. ha..ha.. jadi banyak conflict of interest kita.
    tapi sebelum berperang ingatlah teori Perang Sun zhu kenali musuhmu, kalau lemah hajar kalau kuat rangkul. diateitupa.
  • Masrul Purba Dasuha Jujur dalam hal ini saya salut dengan orang Toba, mereka justru menganggap kita sbg saudara dgn membuat tarombo yg mempertautkan orang Simalungun, sangat jarang terdengar mereka menjarah atau mengklaim tanah Simalungun sebagai milik mereka, meskipun jumlah mereka sangat banyak mendiami sejumlah daerah di Simalungun. Berbeda dgn orang Karo, bukan mempererat persaudaraan justru malah menyulut api perpecahan. Dari kasus ini saya semakin paham siapa saudara sesungguhnya.
  • Yosua Salang Say Effendy .

    hmm ,...
    so
    naha do pangahap nasiam omz Masrul Purba Dasuha , Posman Purba Tanjung , Karles Hasiholan Sinaga ,.... pakon hita haganupan ibagas group Media Simalungun on ?

    halus ,..... do ?
    manang
    kasar ,..... do ?

    _/\_

    diate tupa .....

    horas gabe ,..
  • Posman Purba Tanjung Yg luchu-luch ni diJSM yg katanya sarana kampanye mereka,ni dia "mesir=miser ,nurwegia=nuri2gia ,genting(malaysia)=ginting ,amerika=ame(istrinya orng karo suami amerika dan seterusnya sampai DONGENG PERLANJA SIRA dan msh banyak yg di copas dan di posting yg hanya luch-luch.harusnya cerita sprt ini disampaikan ke anak2 TK persis apa yg sy dengar wkt kecil dahulu...hm tp suatu saat fakta akan membentur mereka sendiri,tp lucunya sy amati org yg berpendidikan dan punya intlektul S1 S2 ikut ter bawa arus copasan mereka yg sama LEVELnya obrolan fakter tuak.sudah sangat lama sy ingin bergabung ke grup trsb.tp,sy pertimbangkan kembali akhirnya sampai detik ini sy tdk berniat bergabung.padahal dalam diri sy mengalir darah karo karena sy di lahirkan ibu br Sinlingga dan pendamping hidup sy br Barus tp,ya karena terlalu mempertimbangan sesuatu yg bakal di masuki kurang berkenan di dalam nurani kecil ku.
  • Dat Malem Tarigan Tambak Mejuah-juah..
    Man kita kerina si pulung bas Media simalungun enda.
    Adi lenga Sieteh turi-turinna ula lebe metersa kita erbahan kesimpulen.
  • Posman Purba Tanjung Sorry@Josua Salang Say Effendi,kan dah jelas kam KALIMBUBU bena-bena ku karena yg melahirkan Bapaku br Munte,jd di simalungun kam tondong bona.di pulau jawa hubungan antar suku Sumut sangat terjalin dan harmonis terbukti dr sarana ibadah yg selalu berdampingan,faktanya diJakarta daerah Cempaka putih bersebelahn HKBP,GBKP,GKPS. di Cengkareng jg sama,di Tj.priok jg sama, di Tanggerang jg sama.dan itu kebersamaan sangat kental kami rasakan di tnh perantauan..
  • Yosua Salang Say Effendy .

    hmm ,...
    Posman Purba Tanjung

    biarkan "mereka" melaksanakan
    cara pandangnya ,...
    kalau tak suka , tinggalkan .
  • Brayan Munthe Sunaha gat ni marganjang parbualan on . . . .
  • Brayan Munthe Kemana Sanina Alie, oh malam minggu martandang mungkin to rumah br. Damanik.
  • Posman Purba Tanjung tabi lobe haganup hita i MS on,hu parsahapi lobe sanina nami@Dat Malem Tarigan T. eah mejuah-juah,arah apai kin maksudndu si melebesa maka si suruti ka cuman aku pe lenga ku eteh bahasa si apai sinimaksud ndu e,belasken saja maka terang ia bagae kin.lang pe muat si mehuli ras siteng-teng agak mesera kin. Pas kap bagi kalak ngeroka nggo pinter pe,i bertengi ka maka mejile jd e kin falsapah itadingken nininta nai me bage ia.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Aih.. Tarsonggot nakonai bni uhur hu.
    Mase songon na dong na maningati au?
    Ma tongon bapa BM.
    Ham do hape ai bapa.
    Hahahaha..
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Huahap na salah paham do bahatan hasomanta ai bni hatorangan na iluruskon lawei MPD bni sejarah ai.
  • Brayan Munthe Horas Sanina AS@ baqru plg martandang ya, haha
  • Posman Purba Tanjung tulang@Barayan Munte sonaha pangahapmu mase songona sip-sip admin ta ai tambahi nimu ase marganjang parbualan on paima nonton bola hita,lang ai do.anggo ma renges puhoi ma.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Hahahaha..
    Kok tau sanina?
    Pas pula itu kt ny k rmh br Damanik.
    Hihihihi..
  • Dat Malem Tarigan Tambak Man seninaku Posman Purba Tanjung, . Mejuah-juah senina. Ibas mulana labo lit pernah kuidah persoalen antara simalungun ras karo bas dunia maya enda. Enda mulai terjadi sanga ibahan seninanta masrul Forum diskusi budaya simalungun ras karo. Mungkin lit je perdebaten si la sehat, terus terbaba ku JMS. Janah seninanta ena pe , igegehina lalap ibas JMS. Lang nggo ka nge mbarenda kupersingeti man bana. La kerna hubungen nindu senina , kam gia me seh nge matandu ernehen maka kami kalak tarigan si tading bas taneh karo enda sada nge arih kami.Janah mi ietehndu ka nge maka kami kalak tarigan Tambak enda , kalimbubu bena-bena kami Barus mergana Sibayak Jambur lige? Jadi nai nari pe nggo nge lit hubungen dareh antara simalungun ras karo. Ence uga ka maka gundari sigejekken? Lanai bo perlu sigargari erbahansa muat cedana. MBiar aku bagi singonggar kayu buruk senina. Janah kita nge kap ngakuken bana jadi TARIGAN i taneh karo, uga ka maka gundari karo e ka sikataken lepak? Bagendame ia sitik turi-turinna seninaku, gia merambo-rambo, terjeng je ngenca banci terturiken aku. Bujur ras Mejuah-juah kita kerina
  • Brayan Munthe Taulah aku, mubajir dong, saragih ganteng tdk martandang . . .
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Amerika pantekan karo.
    Arab jg, argentina jg, malaysia jg, thailand jg, papua jg, pilipina jg.
    Kerina lah si lit bas doni enda.
    Lucu kuakap mbacana peh.

    Hahahahaha..
  • Brayan Munthe Sanina AS@ Masih ingat enggak masalah polemik kita tentang perbatasan . . . doloksilau dan si5huta, dulu sdh kubilang sanina, akan rame apabila kita membicarakannya tanpa keberadaan Purba, Girsang, dan Tarigan yang domisili diborder simka itu, mereka akur2 saja kok. Banta sude haganupan, tentang persoalan ini saya sdh berulang-ulang berhantam dengan saninaku AS, tapi berhantam dalam persaudaraan . . . ini lain saya lihat sdh . . . membuat parsirangan parhade-hadean.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Sanina BM@ Naik pinggol hu sambolah 5cm halani iatahon ham au ganteng.
    Aih naha lah paulakkon on.
    Hehehehe..
  • Brayan Munthe lang pala mamuji-muji au sanina, faktana do sihuhatahon . . ., piga do pacar sanina, jujurlah
  • Ali Hendra Sumbayak Raya BM@ Mungkin sarupa pandangan ku pakon pandangan ni par tanah karo mangidah kondisi i simas sonari on.
    Ai do ase marsigogohi pandapot.
    Hape na tading i simas dear2 tumang do sidea.
  • Brayan Munthe Hunja do Tuan MPD . . . tarpodom?
  • Brayan Munthe Kan sdh saya bilang sama dulu sama sanina, biar jelas ujung pangkalnya, hrs ada tarigan, purba, dan girsang na diperbatasan i baru bisa kita tahu duduk perolannya, maaf par karo yang mana, lang par karo doi, individu2, tongon doi
  • Ali Hendra Sumbayak Raya BM@ Individu + individu akn jd karo sanina.
  • Yosua Salang Say Effendy .
    hahahahahaha ,...
    sudah kan omz Alie Saragih
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Yosua@ Makasih byk.
    Bujur melala.
    Maaf sy blm omz2.
    Hahaha
  • Posman Purba Tanjung em kap ia seninaku,@Dat Malem TT nggo piga minggu silewat ku posting man seninanta si MPD sipaksaken mbuat kebenaren labo banci lit titik temu na, adi ukuri bagi mbuat kebenaren bas agama.sebab simetehsa situhu-tuhu nggo ras Dibata.cuma si kurang payo kuakap postingan si arah JMS menurut aku pe lit ka menperobahen,bagi si nggo ku belasken bagelah e saja ia.
  • Yosua Salang Say Effendy .

    nvrmind ,...
    dilanjut malam minggunya
    ea Alie Saragih
  • Brayan Munthe blm tentu, Pak Munthe enggak tahu kok itu ha ha
  • Brayan Munthe Erlajar ko josua man Seninanta Alie ena, ia jagongerondong
  • Yosua Salang Say Effendy .

    yakin kok kita , klo omz Alie Saragih
    jago ngerondong .
    klo awak cuma pandai ngetuk jendela
    pada tengah malam ,..... omz Brayan Munthe

    siang cem gak kenal
    klo malam ,.............
    kode pipet atau tali
    jd tinggal tarik tali membangunkan sang idola
    atau hembus air melalui pipet .

    maklum lah cara pacaran orang kampung
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Kembali ke laptop!!!
  • Brayan Munthe Makkela Purba Tanjung@ Lihat postingan saya tentang menghadapi guncingan di Forum Budaya Simalungun dan Karo.
  • Dat Malem Tarigan Tambak seninaku Posman Purba Tanjung, sikatandu ena ndai hanya sekedar humor ras satire nge kukap senina. Erkiteken sikuidah pe ku pertawan nge ibabana.
  • Posman Purba Tanjung Adong sada titik i hita PURBA SIMALUNGUN, i hatahon ma sada ke lemahan,hunbani segi kwantitas hita Purba itanoh simalungun kuat do na min tp,fakta di permukaan hita holsoan. alasan ase huatahon sonin,nah ini dia.!! Kita marga Purba marsanina sangat di segani tp,dalam pelaksanan berbagai kegiatan adat dan budaya kita sudah terurai seperti sapu lidi karena ego dari sub marga masing2 hingga membentuk PARTUMPUAN Purba nya masing2.ini sangat kami rasakan di daerah kami masing2,Contohnya Purba-x berpesta adat tp Purba -z sudah tidak di undang dan purba yg jg sdh cuek,ini sangat jauh beda dengan Tarigan berpesta adat sama semua dan tdk ada dipilah-pilah suatu kesatuan kongkrit sehingga indikasinya sangat rapat dan kuat.perasaan ini dari pribadi sy dan sedang saya rasakn bagaiman menurut para saninaku. Horas !!
  • Brayan Munthe Makkela PPT@ kira2 begini dlm upacara adat, . . . iyah gundari kita tarigan mergana apai kita labo ndobah, tegunta sekali e landek . . . ngalo-ngalo anakberunta, ula kita sitading2, adi la idahna kita ras landek ije, kitik kel nge kari ukur anakberunta karo mergana, sebab kita kel kalimbubu simada dareh.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Bkn hanya purba.
    Saragih jg sy rasa begitu.
    Itu krn terbw pengaruh simbalok ta yg toga ini,toga itu, mara ini, marga itu.
    Sebenarnya dulu gk ada tradisi yg demikian d simalungun.
    Kita kira hal yg demikian menguatkan tpi sekaligus jg melemahkan marga itu sendiri.
  • Brayan Munthe Nah skrg sama2 kita perbaiki sanina, itu gunanya kita sharing . . .
  • Masrul Purba Dasuha Beginilah upaya justifikasi sehingga seolah-seolah yg lain akan menganggap ini masalah baru dan semua pemicu pertentangan pun akan tertuju pada saya. Lalu bukti-bukti yg saya sampaikan di atas itu bagaimana, apakah perlu saya scan lembaran-lembaran bukti klaim itu satu persatu baru semuanya percaya. Karena selama ini Simalungun itu diam atas persoalan ini yg tanpa disadari itu telah merusak keutuhan sendi-sendi peradaban Simalungun dan nilai-nilai budayanya serta menjatuhkan martabat orang Simalungun.
  • Masrul Purba Dasuha Setelah adanya grup itu isu ini baru terangkat ke permukaan dan sebagian org Simalungun mulai menyadarinya. Dan semua bukti-bukti klaim yg dilakukan para penulis Karo itu ada pada saya. Untuk memperjelas hal ini, saudara-saudara bisa menanyakannya pada para sejarawan dan pemerhati Simalungun lainnya. Di salah satu blog yg mengulas tentang Nagur, disitu sangat jelas dinyatakan bahwa Brahma Putro Sembiring mengkarokan Nagur dan Batak Timur Raja. Apakah itu harus saya postingkan di sini baru semua percaya.
  • Masrul Purba Dasuha Dan hal inilah yg mendasari saya membuat grup itu, untuk menampik dan meluruskan semua kekeliruan yg terjadi selama ini. Pada diskusi awal di grup tsb sebelum saya menguraikan panjang lebar ttg masalah ini, Juara Ginting sudah mengawali tindakan pengklaiman dengan mengatakan Silima Kuta bagian dari wilayah hukum adat Karo. Padahal disitu ada keturunan langsung dari Silima Kuta yg menampiknya, namun JG tetap saja bersikukuh dan kam pun juga ada di situ tidak berusaha meluruskannya.
  • Masrul Purba Dasuha Akibatnya permasalahan ini berbuntut panjang dan menuai polemik yg tidak berujung. Oknum tsb kemudian membawa masalah ini ke forum JMS untuk jadi bahan perbicangan sekaligus utk mencari dukungan atas pernyataan yg ia kemukakan. Trik seperti inikah yg anda benarkan, bahkan anda sendiri pun ikut menertawakan Nagur dan Simalungun di grup itu. Kalau mmg anda tidak menginginkan persoalan ini memanjang, tentu anda bisa meredam masalah ini di grup tsb. Dan saya melihat anda tidak punya niat untuk melakukan itu.
  • Masrul Purba Dasuha Jangan karena anda merasa cuma sendiri, lalu itu anda jadikan alasan untuk mendiamkan masalah ini. Saya juga sendiri, karena saya mengusung kebenaran maka itulah yg membuat saya jadi berani. Saya yakin sebagian orang Simalungun yang ada di grup ini akan secepat kilat berubah haluan karena postingan anda dan saya sama sekali tidak heran dengan itu, karena mmg begitulah tipikalnya. Berbeda dengan kalian ketika JG berkoar-koar mempropagandakan kekeliruannya, dengan kompak kalian mendukungnya.
  • Masrul Purba Dasuha Dan saya akui kalau sanina Dat Malem Tarigan Tambak sejatinya mengakui kebenaran yg saya sampaikan, karena ia sendiri sudah pernah mengakui hal itu sebelumnya. Cuma yg disesalkan kenapa kam tidak berupaya membenarkan semua pernyataan saya kepada mereka, kenapa kam membiarkan kekeliruan sejarah berkembang menjadi besar. Mengapa kam biarkan semua marga Tarigan yang ada di JMS itu menampik asal mereka dari Purba Simalungun. Kalau kam berupaya meluruskannya tentu kisahnya tidak akan berlangsung sepanjang ini.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Lawei MPD,... Pernah gk mereka gk percaya atas postingan lawei tentang marga2 karo yg bersumber dr brahma putro dan budayawan2 karo lainnya?
    Pernah kan?
    Sering kan?
    Nah skrg, mereka saja gk percaya kita jg harus tdk percya atas apa tulisan2 beliau selama ini.
    Berarti tulisan beliau itu 90% bohong. Mereka sendiri menyatakan bnyk yg keliru tentg sejarah karo yg d tulis oleh sejarawan karo.
    Mereka sj gk percya kita lbh patut gk percaya.
    Tpi jgn suatu saat kita dgr mereka menyatakan sumber di apa yg mereka tdk
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Percaya selama ini utk memaparkan sejarah nya.
    Klo itu sempat, berarti mereka tdk konsisten.

    Klaim2 yg dilakukan oleh brahma putro sprt yg ham blg itu, tak patut di percaya.
    Karena di karo jg dia tdk di percya atas tulisan2nya.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Tak ada yg benar penulis2 karo itu.
    Sy yakin mereka fanatis kesukuan nya sangat kental dan tinggi sehingga menulis dan mengurai sejarah pun mereka tdk pernah membandingkan dgn suku di sekitarnya.
    Sy yakin mereka tdk tau banyak tentang simalungun,pakpak,toba. Mereka hanya tau karo saja.
    Sehingga byk kekeliruan dlm tulisan nya.
    Namun dlm kekeliruan mereka itu perlu kita LURUSKAN.
    Sekali lg LURUSKAN agr jgn berlarut2.

    Mungkin itu lah yg dilakukan lawei MPD selama ini namun di kira mengklaim.
  • Posman Purba Tanjung Kita membeberkan fakta-fakta yg jelas-jelas nyata di hadapan mata kepala mereka sendiri,masih saja mereka menampik.sy ulang contoh topik perdebatan bulan yg lalu"Karo bkn Batak"yg di secara gencar dikampanye kan di GrupJSM. Lali sy memposting unsur kata Batak di salah satu Institusi ke agamaan terbesar di tanah karo yaitu(GBKP~Gereja BATAK Karo Protestant) para teman2 diskusan menampik dan menjawb keluar konteks dan mengarahkan teman yg lain ikut bercerita dongeng2 jaman dulu.dan ironisnya lg diktakan institusi tersbt direkayasa dari orang Batak,penyangkalan di propaganda dalam postingan yg mereka ketengahkan.dan sy renungkan sangat sedih sekali mengingat para pejuang missioner yg berjuang untuk kebaikan manusia pemeluk agama sekarang.Semoga berkati kita semua.A M I N.
  • Dat Malem Tarigan Tambak Seninaku Masrul Purba Dasuha . Kebenaran apa memang yang sudah senina paparkan selama ini??
    Saya belum melihatnya sebagai kebenaran, karena yang senina paparkan selama ini baru sebatas hipotesa saja. Justru saya yang sangat kecewa dengan senina. Sadarkah senina tindakan senina justru menimbulkan prasangka - prasangka akan simalungun dan karo, yang selama ini hidup tentram dan bersahabat tanpa ada prasangka dan penuh dengan persaudaraan? Kalau memang senina mau meluruskan sejarah yang bertentangan dengan pendapat senina, buatlah dengan cara yang lebih layak dan bersifat akademis. Bukan hanya berkoar-koar di dunia maya ini yang memancing perspektif khalayak ramai yang sama sekali belum mengetahui duduk permasalahannya. Jika senina kecewa dengan karangan Brahmo putra tidak ada masalah, karena saya yakin tidak semua orang karo mengamini apa yang dituliskan brahmo putra sebagai kebenaran yang hakiki. Begitu juga dengan penulis yang lainnya. Kami menghargai setiap karya penulis tentang karo, dan perlu Senina dan Lawei pahami, MENGHARGAI bukan berarti MEMPERCAYAI seutuhnya tulisan mereka sebagai sebuah PEMBENARAN mutlak. Jadi menurut saya Pembuktian keenaran sejarah yang seninaku lakukan selama ini akan sejarah simalungun dan karo tidak lah tepat tempatnya bila senina lakukan di DUNIA MAYA ini, kalo memang mau senina lanjutkan silahkan anda lakukan dengan cara yang lebih baik, bukan malah jadi batu sandungan dalam kebersamaan dan Persaudaraan yang selama ini sudah berjalan dengan sangat baik antara Simalungun dan Karo. Dan Jangan pernah terlampau Cepat membuat kesimpulan seolah-olah kebenaran itu sudah mutlak ada di pihak anda.
    Sentabi.
    Bujur ras Mejuah-juah kita kerina.
  • Masrul Purba Dasuha Begini senina ternyata uraian saya yg panjang belum mengena di hati anda. Baik akan saya ungkapkan satu persatu.
    1. Silimakuta adalah bagian dari Simalungun, bukankah itu benar?
    2. Nagur dan Batak Timur Raja itu adalah kerajaan milik orang Simalungun, bukankah itu benar?
    3. Bangun Purba, Naga Saribu, Saribu Jandi, Gunung Mariah, Tambak Bawang, Bawang, Ujung Bawang, Tanjung Purba, Sinombah, Simeluk, dan Si Ranggiting adalah perkampungan yg didirikan org Simalungun, bukankah itu benar?
  • Joe Frizer Sipayung masih tetap.......apapun ulasannya,di ujung Tiang-nya = MERAH PUTIH.
  • Ivan Taniputera Benar. Pak Masrul Purba Dasuha. Silimakuta memang bagian dari Simalungun, meski Silimakuta berdasarkan sejarahnya adalah kerajaan termuda.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Yg gk tau sejarah simalungun ya pasti blg silimakuta tanah karo.
  • Brayan Munthe Nah ada saudara kita Bp. Ivan Taniputara melihat dari luar, dia bukan karo, dan bukan simalungun . . .
  • Masrul Purba Dasuha 4. Foto Guru Raya Simalungun yg dimuat dalam buku Karo, lalu saya menggugatnya, apakah tindakan saya itu salah?
    5. Tarigan dan Karokaro Purba berasal dari Purba Simalungun, apakah pendapat itu tidak benar?
    6. Kedatuan Tanjung Marawa bagian dari Simalungun yg merupakan kerabat dari Kerajaan Padang, Tebing Tinggi. Apakah saya salah?
    Jadi kebenaran inilah yg saya perjuangkan selama ini, karena 6 hal ini adalah kebenaran mutlak yg tidak bisa ditawar-tawar lagi. Lalu mengapa pihak Karo tetap membantahnya.
  • Ivan Taniputera Sejarah Silimakuta sudah ada di bahas di buku Pak. Kalau saya salah satu sumbernya pakai buku Tideman saja. Di situ sudah diulas tentang sejarah Silimakuta. Tentu saja buku2 lain juga banyak.
  • Dat Malem Tarigan Tambak Masalah pertanyaan senina Masrul Purba Dasuha d iatas, saya tidak berkepentingan dan berkompeten untuk menjawabnya.
    Silahkan senina tanyakan langsung ke tempat-tempat yang saudara tuliskan itu.
    Sebelumnya jika senina berkenan, apakah defenisi "SIMALUNGUN" yang saudara maksud, Identitas etnik kah? Batasan Terotorial kah? Dan Bagaimanakah orang bisa diklasifikasikan "SIMALUNGUN"?
  • Masrul Purba Dasuha Betul mas dan beberapa tahun lalu kita sudah pernah membahas itu. Lalu mengapa saat ini menimbulkan perdebatan, karena ada pihak sebelah kita yg mengklaim Silimakuta tersebut masuk ranah adat suku Karo dgn alasan daerah itu banyak dihuni suku Karo tanpa pernah melihat sisi historisnya. Anehnya gugatan itu datang dari seorang yg mengaku antropolog jebolan Leiden pula lagi. Karena klaim yg dilakukannya makanya saya berupaya meluruskannya. Jadi ini bukan masalah merah putih, geli saya baca komen lawei Joe ini.
  • Masrul Purba Dasuha Wach saninakku Dat Malem Tarigan Tambak, ya karena itulah makanya saya masuk ke dalam grup sebelah untuk mendiskusikannya sekaligus meluruskan pandangan keliru tentang itu, namun nyatanya apa? Mereka keberatan kan, malah menyerang saya balik dengan menuduh saya mengklaim. Padahal apa yg saya sampaikan adalah fakta yg sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dan terakhir mengenai definisi Simalungun, yg lain pun bisa menerangkan ini. Entitas dari Simalungun itu tidak jauh beda dengan entitas Karo itu sendiri.
  • Masrul Purba Dasuha Untuk penjelasan lebih lengkap atas pernyataan senina Dat Malem Tarigan Tambak, karena itu terlalu mendasar jadi lebih baik saya serahkan pada Lawei Joe Fritzer Sipayung untuk menjawabnya. Silakan lawei....
  • Dat Malem Tarigan Tambak Makanya senina kalau mau melakukan riset itu Jangan di dunia "MAYA", kalo memang anda sangat tertarik. datangilah tempat yuan anda merasa tertarik itu.
  • Joe Frizer Sipayung sekedar pencerahan.......copas Lawei Masrul Purba Dasuha (Anehnya gugatan itu datang dari seorang yg mengaku antropolog jebolan Leiden pula lagi.) Sepanjang GUGATAN belum ada diajukan ke Pengadilan yg terkait serta telah Mempunyai Keputusan Hukum yg inkrah, maka apapun klaim yg diisukan/diinfokan sama sekali NOL (0).
  • Dat Malem Tarigan Tambak Tanyakanlah kebenaran pada masyarakat setempat, buatlah artikel atau tulisan tentang hasil penelitian anda, baru anda bisa paparkan ke khalayak ramai.
  • Masrul Purba Dasuha Terima kasih atas sarannya sanina Dat Malem Tarigan Tambak. Dan saya harap sekembalinya dari sini, sanina bisa mendinginkan suasana yg terjadi di grup teman kita tsb dan kam tentu sangat paham kalau saya tidak pernah punya itikad untuk memicu pertikaian atau memancing SARA. Karena saya tahu bahwa Tarigan & Karokaro Purba itu adalah saudara saya, makanya saya ingin merajut hubungan yg lebih erat dgn cara mengetahui bagaimana sejarahnya dan kalau ada waktu kita bisa buat suatu perkumpulan nyata di lapangan.
  • Masrul Purba Dasuha Oke terima kasih sekali lagi atas sarannya sanina. Semoga hal itu akan bisa saya wujudkan suatu saat nanti. Lawei Joe Fritzer Sipayung, isu pengklaiman itu sudah termaktub di buku dan sudah jadi opini publik, lalu bagaimana itu. Tolong kam jelaskan dulu mengenai definisi Simalungun yg ditanyakan sanina Dat Malem Tarigan Tambak itu agar beliau tidak penasaran. Karena pertanyaan itu terlalu mendasar sekali, jadi saya pikir lebih baik saya serahkan pada teman yg lain saja untuk menjawabnya.
  • Dat Malem Tarigan Tambak Wah , saya juga tidak berkompeten tentang itu senina.
    Hanya sebagai saran buat kam, ITIKAT baik bila dilakukan dengan cara yang tidak tepat sangat mungkin ditafsirkan orang lain dengan cara yang salah pula.
    Mari kita bangun dan pertahankan Budaya kita sebagai hasil peradaban tinggi leluhur kita, tanpa harus saling mengusik satu dengan yang lainnya.
    Bujur ras Mejuah-juah kita kerina.
  • Joe Frizer Sipayung horas......Lawei Masrul Purba Dasuha.dari postingan lawei tsb saya berpendapat "Apapun asal nama daerah tsb maka kepastian dan kebijakannya adalah sebutan nama daerah yang tertuang didalam sistem pemerintahan daerah dimana wilayah tsb berada".
  • Brayan Munthe Tuan MPD@ supaya ini tidak berlarut sebaiknya ada par Naga Saribu, Saribu Jandi, Tambak Bawang, Bawang, Ujung Bawang, Simeluk, dan Tanjung Purba songon nasiam posting diatas, tapi benar2 yang harus berasal dari sana jangan hanya yang ngaku2, kalau tidak akan berlarut-larut, tanpa ujung. Nah teman berpolemik Tuan MPD juga tdk ada disini . . .
  • Masrul Purba Dasuha Intinya memang susah menghadapi mereka ini, cara menyikapi persoalan saja sangat jauh berbeda. Saya yg sudah berkecimpung langsung di dalam grup mereka merasakan langsung. Bagi yg tidak percaya silakan dilihat langsung, maka saudara-saudara akan menemukan ungkapan seperti ini "pentung aja, cincang aja, usir aja, dll". Dan juga main blokir, sementara mereka disini bebas untuk mengoceh, diminta untuk menjernihkan suasana di grupnya dia keberatan, giliran di grup kita ini dia mau. Payahlah...
  • Masrul Purba Dasuha Tapi anehnya ungkapan demikian tidak ada yg menyanggahnya bahkan pihak admin pun grup tersebut diam saja, kelihatan sekali mereka memang kompak. Justru saya pula yg dikasih saran, jelas-jelas dalam buku Brahma Putro Sembiring menyebutkan Nagur dan Batak Timur Raja bagian dari Karo. Daerah Bangun Purba, Gunung Mariah, Sinombah, dan Tanjung Marawa tersurat dalam dokumen resmi mereka bagian dari ranah hukum adat Karo. Dan klaim ini sudah dilakukan sejak tahun 50-an, jadi pihak mana sebenarnya yg mengusik.
  • Masrul Purba Dasuha Dan saat ini mereka merambah mengklaim Naga Saribu, Saribu Jandi, Tambak Bawang, Bawang, Ujung Bawang, Simeluk, dan Tanjung Purba serta mencakup seluruh kawasan Silimakuta untuk diakui sebagai wilayah mereka. Bahkan sebagian tanah Pakpak, Alas, dan Gayo juga mereka ikut sertakan. Jadi bukan hanya di wilayah Simalungun saja mereka berekspansi, kalau bisa seluruh Sumatera ini mau mereka akui sebagai tanah ulayat nenek moyang mereka. Bagi yang penasaran silakan diamati langsung pada grup tersebut. Horas ma
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Dunia jg lawei.
    Hahahaha..

    Impal Dat Malem., anda bisa rasakan kan gimana cara berdiskusi di sini dgn di JMS?
    Di sini gk ada kompor2 ky yg di situ.
    Kata2 kotor dan keji terlalu byk di sana?
    Klo di sini sama dgn d sana, klw kam udah mahar kami bwt disini.
    Tpi tdk.
    Kmi bkn sifat yg seperti itu.
  • Yosua Salang Say Effendy .



    tolong kita cermati dan tela`ah barisan kata dibawah ini :

    "..., mau mengetahui "sesuatu" tersebut dengan cara pandang pribadi ,... bukan mempertimbangkan keterangan yg ada .sehingga yg "dilirik" merasa dilecehkan ,namun sayangnya lagi yg menjadi "pandangan" juga sebatas keinginnannya oleh karena ego pribadi .
    [ula belasken kata tuhu tp cakapkenlah kata tengteng ,...tp si payo e labo tuhu tengteng]

    omz Masrul Purba Dasuha , Posman Purba Tanjung , Alie Saragih , Karles Hasiholan Sinaga , Brayan Munthe ,Dat Malem Tarigan Tambak ,... <> pe`payo dhage uga sila tengteng e ,....tuhu lah kin e ?

    hmm ,....
  • Boston Girsang Nagasaribu & Tiga Raja kampung kita Saudara sampai saat ini leluhur kita masih di sana sampai saat ini pula masih kabupaten simalungun kec : pematang Nagasaribu/silimahuta si pukka huta Marga Girsang kalau ada yg klaim mengklaim di sana ini karo,ini toba,ini simalungun,ini pakpak ndak ada yang mempersoalkan yang penting sampai saat ini hidup damai kalau masalah rumah adat lebih miripnya sama pakpak itu tdk bisa di pungkiri karena di kampung kamipun beda nya rumah adat sama karo/simalungun dan lainya sebab kita sitoluhuta/sipituhuta/silimahuta adalah komunitas unik dan saling terbuka....jadi dalam hal diskusi ini dasarnya hanyalah ke salah pahaman bisa di bilang siapa yang menulis sebuah sejarah pasti MANGAITTON TU NGADOL ORG BATAK TOBA BILANG anggo bahasa simalungun ni lang hubotoh he....he....Yang penting Saling menghargailah dan Saling menjaga perasaan kalau masalah Nagasaribu di siborongborong pun adanya cammana pula itu....
  • Brayan Munthe Kita camkan kata Makkela Girsang
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Dalam bhs simalungun jg begitu lawei istilahnya.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Camkan camkan..
    Hehehe...
  • Brayan Munthe jadi saya hrs bilang apa sanina
  • Boston Girsang kenapa HABONARON DO BONA ? ......yg menjadi motto simalungun kalau anda sudah tau berarti anda sudah paham.......namarsimalungun on........
  • Ali Hendra Sumbayak Raya BM@ ma pas ai sanina.
    Hehehe..

    Ma roh Tuan Silimakuta bogei hita ma.
    Ckckckck..
  • Boston Girsang @Tulang Brayan Pakon Tulang Saragih....ampun lah dulu Tulang ....santabi man bandu ....kalimbubu..he...he...au jo makkatai he...he....sahira nadi pesta....marsipasangapon...
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Baen ham ma lawei patorang ham ganupan.
    Hata nasiam Tuan si5kuta in do sipaimaon.
  • Brayan Munthe Makkela BG@ aloindu saja kami tondong ni nasiam, sanina ni nasiam, pakon anakboru ni nasiam alu cakap Tongging/si7kuta, maka malem ukur ras malas uhurta karina . . .
  • Dori Alam Girsang Jhuster Andika Meliala bre'Ginsuna

    Tigankku pei Girsang nagasaribu nari

    Saja saja gundari la aku mengakui ni tiganku kalak simalunggun

    Sbab lit nini tiganku (kaka nitiganku) erjabu man kalak simalunggun

    Kena kai kalak ena la make adat simalunggun bas kerjana bagepei bas acara karo sideban la make adat simalunggun

    Uga maka adat karo ibanna lalap

    Bagepei uga ka maka laki ndai simerga simanjorang simalunggun nari ibahan jadi merga Pinem

    Adi kalak simalunggun kin tigan ndai, adi jumpa ras erdemu ia ras kalak simalunggun

    Me adat simalunggun iban

    Ei adat karo iban, sampai sampai lawes pei laki ngadap dibata adat karoka iban

    Anak ras kempu ni tigan ndai asa gundari pei adat karoka ibas erjabu bagepei ibas acara sidebanna

    Sikueteh asa gundari adat simalunggun la pernah iban keluarga besar kami Girsang mergana she ku kempu2na adat simalunggun
    Kerina adat karo

    Ei maka aminna pei ni tigan ndai arah nagasaribu ras akui kalak simalunggun nari
    Aku la tek kalimbubu kami ndai kalak simalunggun

    Tapi kami tetap tarigan girsang kalak karo nari

    Sada Arih Sinulingga
    Jguster@ cukup jelas, ilit info maka girsang si ni simalungun ngaku labo ia Purba, malah dancinge si empoon, arah e maka terbeteh maka girsang adalah girsang la seri ras purba

    Terombo Tarigan
    Adi kalak karo ia gersang,sikueteh labo girsang,tarigan gersang labo tarigan girsang.

    Junus Tarigan
    Sabar sabari rukur e..... Lingga bebere mama........ pagi" enggo ka kam darting bebere.... heheheheheheh.... Sada bukti bebere, kami Kalimbubu tua ndu TARIGAN GERSANG Nagaseribu nari ku Karo Jahe enda mei idah ndu labo lit pake kami adat simelungen ... tetap pake adat Karo. Mei teh ndu kami Nagaseribu nari langsung ku Karo Jahe (Karo Dusun). Labo lit singgah Nini empungta nai i gugung, tapi kami tetap pakai adat Karo ...... payo ntah lang bebere. Emaka ulanai naik tensindu.....

    Saya heran liat si Junus ini kemarin dia katakan Oppungnya dri Lehu langsung ke Karo Jahe,sekarang malah dri Naga Saribu..

    Yg saya liat disini saudara kita Tarigan Gersang sptnya tidak mengakui kejujuran bahwa mereka awallnya dri Simalungun..
    Sedih sekali rasanya hati ini,melihat perkataan2 yg demikian itu,sptnya sudah ada jarak yg sangat jauh sekali dengan Girsang mereka2 Saudar kita yg Tarigan Gersang..

    Ini perbincangan mereka trakhir...

    Liat bagimana pula mereka bisa menyamakan bahwa girsang bisa nikah sama purba..dan seblum saya tinggalkan grup itu,tidak ada saya liat org yg menyangkal bahwa girsang tidak boleh menikah dengan purba,bahkan berita yg tidak betul pun bisa jadi betul,tapi nanti masuk ke tatanan adat jadi gak betul lagi katanya..akhirnya mutar2 saja jadinya...
  • Masrul Purba Dasuha Inilah fenomena sosial yang sangat memilukan yg terjadi di tengah-tengah warga Simalungun yg jelas-jelas tidak berdampak positif bagi perkembangan budaya Simalungun justru telah merusak sendi-sendi kesimalungunan itu sendiri dgn banyaknya warga Simalungun yang beralih menjadi suku lain hingga tidak sedikit diantara mereka yg lupa mewasiatkan pada keturunannya agar senantiasa mengingat tanah leluhurnya di Simalungun. Hal ini sudah berlangsung lama dan justru semakin parah dan sangat sulit untuk dipulihkan.
  • Yosua Salang Say Effendy .



    wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk



    locoe juga baca ungkapan dr Jhuster Andika Meliala bre'Ginsuna
    yg dicopast oleh omz Dori Alam Girsang :

    Tigankku pei Girsang nagasaribu nari

    Saja saja gundari la aku mengakui ni tiganku kalak simalunggun

    Sbab lit nini tiganku (kaka nitiganku) erjabu man kalak simalunggun

    Kena kai kalak ena la make adat simalunggun bas kerjana bagepei bas acara karo sideban la make adat simalunggun

    ========================================
    NAGA SARIBU = ini bukan perbendaharaan kata KARO , soal Jhuster Andika Meliala bre'Ginsuna sekarang tidak mengakui nini tigan`nya bukan orang simalungun sebab si Jhuster Andika Meliala bre'Ginsuna yg ganteng ,gemuk dan baby face hanya tahu nini tigan`nya adalah cuma "bru tarigan dari naga saribu" ,soal bru tarigan apa yg dari naga saribu si Jhuster Andika Melilala bre'Ginsuna mgkn saja tidak tahu .
    yg tidak mengakui kan si Jhuster Andika Meliala bre'Ginsuna ? .soal mereka tidak melaksanakan peradatan dalam pesta nini tigan (kaka nini tigan Jhuster Andika Meliala bre'Ginsuna) bisa saja nini tigan`nya juga gak tahu asal muasal bru tarigan naga saribu ,....
    tapi bgmn mgkn ,...... Jhuster Andika Meliala bre'Ginsuna tahu , klo pada pesta kaka nini tigan`nya tidak memakai peradatan simalungun ?

    bukankah lebih tua nini tigan dr pd si jhuster andika meliala bre ginsuna ?
    bukankah lebih tua lagi kaka nini tigan dr pd nini tigan Jhuster andika meliala bre'ginsuna dr pd jhuster andika meliala bre'ginsuna ?

    ==========================================

    Bagepei uga ka maka laki ndai simerga simanjorang simalunggun nari ibahan jadi merga Pinem <> bukankah ada peraturan peradatan dalam perkawinan dalam suku karo/simalungun , jika ada seseorang yg menikahi seorang perempuan yg berlainan suku , maka diberi marga dalam suku karo/simalungun .

    intinya dalam ungkapan kisah si Juster Andika Meliala bre'Ginsuna ;

    USIL DALAM MENGASALKAN

    ASAL DALAM MENGUSULKAN

    <><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>



    semasa statmen dihidangkan dalam thread postingan dalam group tsb , mereka juga berbicara dalam "obrolan confrence" [bukan dalam obrolan group tsb] , yg mana yg ada pada confrence cuma yg diundang oleh seseorang yg membuat obrolan dgn tujuan tertentu sama sperti dokument yg diposting dalam group ,. dimana ada yg bisa lihat ada yg tidak bisa .

    dalam penulisan GIRSANG saja sudah mengakui ,....
    huffz ,.... cape dengan mereka ,.....

    buat omz Masrul Purba Dasuha , klo omz Masrul tahu dimana lokasi kawan itu [jhuster Andika Meliala bre'Ginsuna] tolong konfirmasi Yosua Salang Say Effendy . soalnya ada juga nich mau kita minta penjernihan pribadi ,.... klo omz berteman titip salam eah .

    _/\_
  • Masrul Purba Dasuha Lawei Yosua Salang kalau boleh tau kam marga apanya dan tinggal dimana, penasaran gua dengan omz. Betul yg omz sampaikan, nini tigan itu kan sudah jauh diatasnya. Tapi saya perhatikan pernyataannya, nini tigannya itu kalau ditanya tetap mengaku orang Simalungun, sekarangnya tidak. Dan sebenarnya yg salah disini bukan pihak Karonya melainkan Simalungun itu sendiri, mengapa saat mereka berasimilasi dengan suku lain begitu mudahnya mereka melupakan budaya Simalungun dan mengabaikan identitas lamanya.
  • Yosua Salang Say Effendy .

    dirunut keatas omz Masrul Purba Dasuha
    sudah dikatakan marga dan bbre Yosua Salang Say Effendy
    apa ,..... kita tinggal diperladangan seputaran kawasan kutalimbaru -pancur batu-langkat-tanah karo .
    coba dilirik link dibawah ini ,.... sudah dituliskan *** Mohon Dikoreksi, Kalau Ada Yang Keliru Mohon Diluruskan ***
    eh ,... yg koment malah begajulan [marah gak berlogika]

    https://www.facebook.com/groups/111151892321343/doc/322713504498513/
  • Masrul Purba Dasuha Lihat saja marga Simanjorang setelah dia menikah dengan boru Karo, dia menerima saja dimargakan Pinem yg sama sekali tak ada kaitan genealogis dengannya. Akibatnya keturunannya yang akan bingung untuk mengetahui marga asli mereka, dari Simanjorang jadi Pinem, maka keturunannya hingga beberapa generasi hanya mengenal Pinem, Simanjorang bakal tak terbersit sama sekali. Seharusnya Simanjorang itu kalau di Karo padanannya adalah Benjerang, kalau Pinem sudah lari jalurnya.
  • Masrul Purba Dasuha Margandu kai silih, oh berarti masih dekatlah kita omz. Ya sudah saya runut omz dan saya petik sebagian dari pesannya itu bahwa nini tigannya meski telah menjadi Karo kalau ditanya masih tetap mengaku orang Simalungun. Adanya asumsi bahwa Purba dan Girsang itu adalah marga yg berbeda, sebenarnya yg memunculkan kesan demikian datang dari kita sendiri. Karena mereka melihat fakta di lapangan Girsang Naga Saribu itu tidak menyematkan marga Purba, jadi pihak luar menganggap entitas kedua marga itu berbeda.
  • Masrul Purba Dasuha Omz memang susah berdiskusi dengan mereka, jauh kali sifatnya dengan kita. Saya sama sekali tidak menyangka kalau mereka ternyata memiliki karakter yg demikian. Waduh omz saya sudah membaca itu tadi, saya sangat terkejut ketika ada orangtua bicara kayak ga berpendidikan. Padahal komen diatasnya sopan dan malah minta ketemu dengan saya untuk berdiskusi, alamatnya pun sudah dibagi. Lalu yg dibawahnya komen ketiga tanpa punya rasa malu menanggapi dengan nada sinis dan emosi, ga malu dia begitu ya.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Lawei MPD@ Biar pun di buat marga pinem simanjorang itu, dia tetap memakai simanjorang.
    Cuma dlm adat karo dia di sebut pinem.
    Kenapa pinem, mungkin anak boru nya mertua orgtua istrinya adalah marga pinem sehingga diangkat lah dia jd orgtua angkat nya.

    Sama dgn tulang ku. Mengambil boru ginting suka.
    Kemudian dia di kasi marga bangun. Di angkat pula orgtuanya dr pemberi marga bangun tersebut.
    Tpi mereka tetap memakai marga damanik.
    Cuma dlm pesta mereka disebut perangin2 mergana dan Damanik mergana.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Si juster ky ny tdk tau adat simalungun di silimakuta.
    Memang wajar pendapat beliau mengatakan adat karo yg di pakai sebab kita aja yg melihat adat di si5kuta sering kita katakan adatnya hakaroan sebab agak sedikit berbeda dgn daerah kita.
  • Boston Girsang Bang Masrul Purba DasuhaJadi Nanti Kasusnya ini Sama dengan orang Toba yang datang ke simalungun misalnya hinan pakai Purba simamora nuan holan pakai simamora nai homa Saragih Siapa sich....orang di muka bumi ini yang Tidak ingin mengingat leluhur hanya Menunggu proses Alam do ganupan in......
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Misal adat di purba tua etek, tulang ku jg mengambil boru dr sana beru sitepu kebetulan dlu pestanya disana.
    Tpi adat yg dilaksanakan adalah adat simalungun cuma pengantin dan orgtua pengantin yg pake pakaian adat karo. Namun prosesinya tetap adat simalungun.
  • Yosua Salang Say Effendy .

    makanya sebelumnya "kita" tegaskan kata kata :

    tolong kita cermati dan tela`ah barisan kata dibawah ini :

    "..., mau mengetahui "sesuatu" tersebut dengan cara pandang pribadi ,... bukan mempertimbangkan keterangan yg ada .sehingga yg "dilirik" merasa dilecehkan ,namun sayangnya lagi yg menjadi "pandangan" juga sebatas keinginnannya oleh karena ego pribadi .
    [ula belasken kata tuhu tp cakapkenlah kata tengteng ,...tp si payo e labo tuhu tengteng]
    ..., bla bla bla ,... <> pe`payo dhage uga sila tengteng e ,....tuhu lah kin e ?

    omz Masrul Purba Dasuha

    hmm ,....

  • Ali Hendra Sumbayak Raya Jd hal2 yg seperti itu lah mungkin yg dianggap si juster itu.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Org toba yg berafiliasi ke marga simalungun gk akan lupa dgn asal usulnya walaw mereka tetap jd simalungun.
    Org karo ini yg aneh seolah2 empung mereka dulu asli tanah karo.

    Apa salahnya blg '' iya kami dulu dr simalungun, tpi skrg kmi udah jd org karo. Sekali karo tetap karo '' gk da masalah kan?
  • Yosua Salang Say Effendy .

    yg bru girsang naga saribu kan nini tigan`nya Jhuster Andika Meliala bre'ginsuna .
    sedangkan si Jhuster Andika Meliala bre'gincuna adalah bermarga sembiring meliala ,..... wajarlah pesta secara karo ,... bukankah bolang si Jhuster Andika Meliala bre'Gincuna bermarga sembiring ?
    hmm ,.....
    jadi pesta setelah anak bolangnya ,ya secara "peradatan karo"
    anak bolangnya [bapaknya si Jhuster Andika Meliala bre'Gincuna]
    kawin dengan perempuan "bru ginting suka" wajar lah memakai peradatan karo . kecuali mereka memakai pesta peradatan suku lain , tergantung mereka .....

    "baiknya tahu sedikit , dari pada banyak salah mengarti"

    begitu omz Alie Saragih ,.......

    _/\_
  • Boston Girsang lawei@ Alie Saragih itulah yang ndak ngerti kita padahal sudah nyatanya ...pula ah....loja iba NIPI NAMA I.....
  • Posman Purba Tanjung Sorry time kita,sangat sempit mengcopas ini perlu kita pahami ADAT itu adlh WARISAN tp merupakan suatu HUKUM yg harus dilaksanakn dalam proses perjalanan hidup manusia.pd dasrnya hukum adat itu merupakan kebutuhan dasr yg sama di antara suku Simalungun/Karo/Toba/Pakpak,kesemuanya ini dasarnya dalam proses fase kehidupan manusia,yg sejk mulai lahir dia berada didalam lingkar hukum adat tsb.Fase2 ini yg perlu kita pahami dulu baru kita debat di antara komunitas suku yg belum pegang kunci dasar adat ini ttp aja kalian(kita)berdebat,berdebat,berdebat dan tidak berujung hingga mengarah debat kusir yg indikasinya mengarah unsur SARA.jadi hati -hati,karna kita yg belum memahami titiknya jangan orang lain di katakan salah . Kuncinya ini bagi yg berminat,ada pada sy dan bagi yg mau pakai di DUPLIKAT dulu nanti saya bagi2,cara memakainya pikiran tenang,dan kepala dingin terus sifat munafik dan Egois harus di buang... Berpikir dulu/renungkan,setelah itu baru kita masuk meja bundar kita FORUM DISKUSI BUDAYA SIMALUNGUN DAN KARO. insya..ALLAH debat kusir terhindarkan kasihan kita menggunakan perangkat komunikasi mahal,debat memicu persoalan/perpecahan di antara kita sesama SUKU. HORAS...MEJUAH-JUAH...NJUAH-NJUAH.
  • Posman Purba Tanjung Dasar I. pribadi+kita satu marga(sukut/suhut),sub semarga(sanina/senina/dongan tubu/dgn simbeltek)istilah org toba suhut ring 1 ring 2 ring 3 pada konsep suhut ini yg perlu di jaga hubungan yg penuh hati-hati. Kita/pribadi punya: tulang ~toba : mama~karo :tulang~simalungun: puhun~pakpak. _______________kita renungkan dulu................. Pahami.
  • Sarmulia Sinaga halak na manukangi sejarah, akan ditimpa karyanya sendiri. Toh suatu saat akan terbukti....itu rekayasa. Domma buei tudas-tudos pasal ai, lang pala iserang hita sidea...bahen hita ma ah nasintong janah dear.
  • Karles Hasiholan Sinaga Dulu aku pernah ditolak boru pinem waktu SMP sebab Pinem itu sama dengan sinaga katanya.
  • Karles Hasiholan Sinaga Kalau tarigan udah jelasnya nggak bisa lepas dari Purba Simalungun. Cuma kalau dihadapkan dengan Karo asli atau tidak maka kepentingan yang berkuasa. Itulah kalau kita bawa ke forum Karo. Fakta tertua Sinaga ke karo adalah Tuan Silima kuta, kalau girsang sudah ada 12 sampai 13 generasi, artinya Sinaga sudah ada 13-14 generasi di Karo. Kemungkinan inilah Daniel Prints adalah keturunannya, perangin2 suka tendel =Prist. Tapi kalau ditanya di forum Karo, merdka aka diam, karena kalau berani bicara maka akan babak belur
  • Masrul Purba Dasuha Dari mana lawei tau jumlah generasi marga Sinaga di tanah Karo yg menjadi Peranginangin 14 generasi, apakah sudah ditelusuri. Penduduk awal Silimakuta sebelum beralih ke marga Girsang adalah marga Sinaga, makanya di tempat itu banyak ditemukan kampung yg berlatar "naga" seperti Naga Saribu, Naga Mariah, Naga Timbul hingga di Sipitu Huta juga ada kampung Naga Lingga. Saya rasa jumlah generasi marga Sinaga di Silimakuta mungkin sudah mencapai 20 generasi lebih. Lain lagi jumlah generasi Sinaga di Tanah Jawa.
  • Masrul Purba Dasuha Yang belum diketahui Sinaga apa yg yg menduduki Silimakuta itu pada zaman dahulu, apakah Simanjorang atau lainnya. Dari pengakuan orang Karo yg bermarga Peranginangin, marga Simanjorang pada awalnya beralih jadi Benjerang kemudian ada juga yg menjadi Bangun dan Pinem. Kalau menilik dari jumlah generasi marga Sinaga di Simalungun, jadi sangat kelirulah bila pihak Toba mengatakan asal marga Sinaga dari Urat Samosir. Sementara dari jumlah generasi saja lebih tua Sinaga Simalungun ketimbang Sinaga di Samosir.
  • Karles Hasiholan Sinaga Paling tidak 13-14 (sesuai fakta yang pernah saya baca) karena Pernah Saya Baca Girsang ada 12-13 generasi Saat ini (tapi biarlah marga Girsang yang verifikasi, anggapan Saya adalah tulangnya Girsang yang pindah Ke Karo jadi Girsang + 1 tulah jumlah generasinya.
  • Karles Hasiholan Sinaga Kalau mana lebih Tua Sinaga Tanah Jawa sama Toba, kan sudah di Bilang Sanina Iwan Sinaga beda, terus apa mau di bahas.
    kalau mau tau Sinaga Apa silimakuta maka tanyalah Sinaga dari mana yang jadi Perangin-angin di Karo....
    itu saja.
  • Boston Girsang Sinaga apa nya yang menduduki silimakuta dulu....kalau masalah naga nya di siborongborongpun adanya Nagasaribu macam manapula itu ....saudaraku @ Masrul... kisah Simanjorang & Girsang ini di daerah kami sampai saat ini mereka adalah sepengambilan / sapambuaton......dengan kata lain namarpariban....
  • Masrul Purba Dasuha Yang buat kampung Naga Saribu di Borongborong kan Girsang jadi terkait juga donk dengan Naga Saribu di Silima Kuta. Bukankah mencari nama kampung berlatar Naga di Toba itu susah, padahal mereka mengklaim asal Sinaga dari sana.
  • Dori Alam Girsang Menurut penuturan Juara Ginting ,adalah Sinaga Seibu(Seribu) lalu merantaw ke batu karang jadi Bangun,beda dengan Benjerang mereka marga Simanjorang yg dri kodon2,saya pernah bercerita2 langsung dengan peranggin2 menjerang yg mana Bapa itu sendiri adalah seniman karo (sarunei) dia mengaku bahwa awalnya mereka dari kodon2 dan sampai sekarang tanah mereka sebagai hak waris pun masih ada di kodon2,disini keliahatan bahwa perangin2 benjerang masih menaruh ikatan kekeluargaan ke kodon2...
  • Karles Hasiholan Sinaga Teru toba kena lagi,
  • Karles Hasiholan Sinaga Kembali aja ke topik,
  • Yosua Salang Say Effendy .

    dilanjut dunk penuturan dari Juara Ginting
    ayo omz Dori Alam Girsang diteruskan ,.....



    izin menyimak eah ,.....

    _/\_
  • Posman Purba Tanjung Lanjutan@Dasar II.kehidupan kita dlm melaksanakan proses adat tdk boleh terlepas dari 3unsur diatas: Tondong/simalungun,ini keluarga dari itri yg kita sunting.Kalimbubu/karo,ini jg keluarga dr istri ya kita sunting,Hula-hula/toba jg dr keluarga istri yg kita sunting.Kula-kula/pakpak sama keluarga dr pihak istri.Jadi pada konteks yg satu ini yg paling signifikan mengubah marga dari yg satu terhadp yg lain antar suku di sumatra utara.(contoh..;Purba simalungun ke Tarigan,Saragih ke Ginting,demikianlah sebaliknya) didalam lingkar keluarga yg di sunting/istri/calon istri inilah yg tidak bisa ditawar pihak lelaki untuk proses adat selanjutnya.Dalam mejalankan proses ini sangat berbeda yg satu dgn lain. Disini teramati oleh kita marga dari Simalungun mudah sekali berasimilasi ke marga di Karo,dari proses ADAT di antara puak suku di sumut sy katakan ADAT KARO lah yg paling Sederhana dilaksanakan di antara yg lain(disini bagi orang yg tdk memahami pasti menolak pemaparan ini). Saya utarakan satu sisi proses pembayaran(mahar) tuhor/tukur/sinamot,dan sejenisnya pada sisi kesederhanaan inilah pertimbangan pihak laki penyunting sering untk,pertimbangan FINANSIAL jika terjadi proses perkawinan silang.ma'af dalam hal ini sy tidak megatakan Wanita karo paling rendah tukur/tuhor/sinamotnya,tapi sy katakan paling SEDERHANA dan tidak mengurangi makna nilai kehormatan dan nilai adat tersbut. Pada proses pengadaan TUKUR/TUHOR/SINAMOT/MAHAR inilah perlu pemahaman segala sisi dan sering mengutamakan nilai-nilai adat pada puak suku masing-masng. Contoh proses...... _Bersambung.
  • Brayan Munthe Tepat sekali yang diutarakan lae PPT, diantara prosesi adat, prosesi adat karo itu yang simple dan lues di banding prosesi adat lainnya dlm lingkungan Batak. Bagi masyarakat Karo, Finansial tdk menjadi ukuran harga diri, yang menjadi ukuran adalah; tergenapi tutur siwaluh dan perkade-kaden sepuludua dlm hidupnya, itu saja. Contoh: Seorang wanita karo dinikahi oleh seorang jawa, telah memenuhi tutur siwaluh dan perkade-kaden sepuludua dlm hidupnya, itu oleh kerabat-kerabat, si suami telah menjadi orang Karo. Kebetulan dalam lingkung keluarga saya sendiri, banyak sekali perkawinan menjalin perkawinan dengan non Karo. Ada Mami (Atturang) saya dari Minangkabau yang telah menjadi Br. Ginting, dia disayangi oleh keluarga Ginting, mami saya itu sangat fasih bhs Karo, anak2nya impal saya sangat fasih bahasa karo, walau mereka lahir dan besar di jakarta (semuanya sdh menikah dengan bukan karo), tapi bagi kalimbubu saya, semua itu karo, karena dalam keluarga kami berinteraksi dlm tata keluarga Karo. Jangankan di Sumut, di P. Jawa banyak sekali kel. kawin campur Masy. Karo, di dlm keluarganya tampak kehidupan sosial budaya karo. Karena apa, tata kehidupan karo itu simpel, warm. Demikian dalam kel. saya sendiri, istri saya yang non Batak, istri saya diperlakukan sebagai Putri/saudari oleh keluarga tondong saya.
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Sy jg berpendapat begitu. Adat karo yg paling sederhana.
    Bkn masalah mahar saja tpi proses adat nya jg.
    Klo boleh sy sebutkan istilah nya, adat karo ini adalah ADAT HATA. Marbuali torus. Mambere hata tahan do jongjong 1jam 2jam hata na 1 lalap i ulak2.
    Mambere sahap humbani kalimbubu dong 10 halak manluar hata na 1 tong lalap i ulak2.
    Hehehe...
  • Ali Hendra Sumbayak Raya Mahar mungkin tdk terlalu besar utk adat karo.
    Tpi biaya pesta yg d minta kpd pihak laki2 ya besar jg.
    Tempat mereka pesta kita pula yg biayai.

    Ky tongah sy menikah dgn br sembiring dr kuta singa k.jahe.
    T4 mereka pesta di minta sma kami biaya 25jt.
    Ya sama aja besar jg.
    Tekor dah.
    Walau kta ny mahar tdk terlalu besar tpi klw begitu.
    Hahahaha..
  • Brayan Munthe Sanina AS itu besar karena untuk menjamu family, untuk makan kok, manatap itu . . . . sanina sdh ada yang ok sama ce dr karo . . . nanti saya urus mantaplah.
  • Posman Purba Tanjung Lanjutan@ contoh.............Pada prosesi adat nikah tsb.disini saya ambil contoh:adat Toba><adat Karo.Adat Simalungun dan Pakpak tdk sy contohkan karna ke2 ini lbh cenderung ketoba. _______untuk kebutuhan pihak paNGOLI/siEMPO,tahap awal mulai marHori-hori dingding/arih -ari ras anak beru,dan kemudian setelah berapa waktu ditingkatan Manaruhon situtungon/maba belo selembar karo,pada tingkatan inilah memaknai perlu pembicaraan yg alot dan penuh kearifan. Bedanya pembicara toba suhut keII atau d ganti keIII dan di karo pembicara 1 org anak beru . Dari hal ini sanagat banyak perbedaan yg sangat menyolok Adat Karo dgn yg lain-lain di antara suku Batak(maka sering sekali kita dengar kata-kata orang Karo terucap"KARO bukn BATAK". Maka pada prosesi pembicaraan tukur/sinamot jelas sangat jauh beda kalau di paparkan sbb,TOBA.... sinamot tawar menawar di antara pihak Pangoli dan pihak perempuan dan sering sekali tidak ada ukuran tertentu nilai nomonal yg di ajukan phk perempuan dan tergantung status sosial,pendidikan anak,jumlah kerabat keluarga,siluah dan kebutuhn lain -lain lagi.Dan ini semua diluar keperluan sarana dan konsumsi pada dasarnya tanggung jawab pangoli(maka di adakan d tempt phk pangoli phk perempuan datang). Paparan....... Tingkatan ini juga di Adat Karo sbb....... Maba belo selembar pembicara anak beru yg di tetpkan 1org,tp di dampingi teman yg lain ,demikian juga dari phk perempuan anak beru melakukan tawar menawar/negosiasi tingkat kehormatan sementara tukur/sinamot sudah mempunyai acuan di pegang para tokoh Adat sesuai perkembangan jaman(akumulasi nominal nya saat ini tdk lebih dari Rp4jutaan dan terpenting bilangan akhir ENAM 6) . Pelaksanaan prosesi Adat di laksnakan di tempt phk perempuan tempat disiapkan phk perempuan dan pembiyayaan konsimsi di tanggung spenuhnya oleh phk siEmpo(biayaya relatif untuk kebutuhan tersebut.hal ini masih banyak perbedaan prosesi lain dan terlali panjang dipapar saat ini. kita renungkan untuk sementara................ Bersambg.
  • Oberlin Malau Saya benar2 tdk mengerti adat karo,.maka sy mau tanya,sesuai pernyataan lawei alie saragih diatas....mahar dan biaya pesta dalam adat karo bedakah?
  • Posman Purba Tanjung lanjutan...........Pada proses adat yg telah berlangsung di atas merupakan salah satu faktor nyata perubahan transisi dan ber evolusi marga-marga dr simalungun bahkan dr toba ke marga karo.Dimana kita ketahui karo sangat kuat dengan keterikatan marga silima yg tdk bisa di tawar-tawar.maka itu orang dari luar karo menikahi putri karo sering marga tertentu sulit menterjemahkan marganya untuk masuk salah satu marga yg lima tsb. Tetapi jika suatu marga tertentu sudah mendapat terjemahan dan dapat memsuki salah satu marga karo maka dia langsung berEVOLUSI dan dapat beradaptasi di daerah karo,termasuk dorongan budaya lain di luar peradatan tsb. Maka,sehingga sering kita dari luar karo seperti toba dan simalungun berpandangan atau beranggapan suatu marga masuk ke karo(purba ke tarigan) setelah di di ubah secara adat tidak sedikit berubah jadi permanen jd tarigan, setelah demikian hingga,anak dan cucu bahkan cicit sudah tidak mengakui asal usul kakek/oppung mereka dari simalungun.dan secara garis waktu yg sangat berkepanjangan daerah terotorial dan wilayah geografis nya mengalami transisi secara perlahan-lahan. Sehingga saat ini banyak pertanyaan persis seperti pertanyaan yg di lontarkan sanina Masrul Purba Dasuha. Sangat tidak sedikit menjadi perdebatan sesama satu marga yg konon pada dasarnya sepupu dan satu garis turunan secara sejarah marga masing-masing. Namun ada baiknya ini bahan untuk pembelajaran bagi para generasi di antara marga terutama di luar karo,dan ini semua ter alami sendiri pada saya dan, garis turunan kami. Tapi dimohon kita dapat mencari jawabn dan solusi daripertanyaan-pertanyaan diatas. Sekian...,D.,D
  • Brayan Munthe Lawei PPT@ keterikatan tdk saja dalam silima marga, di etnis lain dlm batak juga kuat, cuma yang menjadi pertanyaan; mengapa mereka setelah hidup dlm kekerabatan silima marga menjadi betah? Menurut saya, penerimaan seseorang masuk ke dalam salah satu kerabat silima merga itu diterima dengan ikhlas, dan dijadikan menjadi saudara sebagaimana saudara kandung. Contoh dlm keluarga kalimbubu saya, mereka 75% kawin ke luar suku karo, dlm berbagai suku dan bahkan ke bangsa asing, semua proses pernikahan mereka melaksnakan secara adat karo, dan mereka aktif juga dlm adat karo. Berikut ini saya berikan contoh nyata; Putri Puang kalimbubu saya dinikahi oleh Putra Bali, nah putra bali itu dalam kehidupan karo menjadi Putra Mama saya, dengan demikian otomatis, saya menjadi anak beru Putra Bali itu, saya harus sopan dan hormat sama dia, itu kami lakukan bersama senina sepemeren saya. Bulan Nov 2012 lalu, putri tertua mereka yang berdarah bpk bali, ya permen saya, dipersunting oleh Marga Simanjuntak (Toba) yang WN USA. Pemberkatan mereka dilangsungkan di GBKP Cijantung, upacara adat karo, simanjuntak sbg. merga tarigan. Pada hal kedua pengantin itu hidup di New York, biasanya indonesiana bangga pelaksanaan perkawinan di USA. Namun impalku Putra Bali itu, menghendaki perkawinan di indonesia (upacara adat karo, dan pemberkatan di GBPK). Bagaimana kalau peristiwa itu, dlm adat simalungun dan toba? cobalah jujur dijawab? bgmn prosesnya, biaya adat apa yang dipaksakan kepad Putra Bali tsb diatas?
  • Posman Purba Tanjung Indah dan unik sekali... . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .contoh yg di katakan tulang Brayan Munte itu, pada mulanya pasti ada faktor penyebab prosesi itu terjadi.________soalnya dari bule Amerika jd marga Simanjuntak(toba) kenapa ggk langsung ke Tarigan? Kalau putri dari bali, oke kita iyain lah. Yg begini pertanyaan buat kita semua kalau kita mau belajar..!!
  • Brayan Munthe Sorry, itu bukan bule tapi asli simanjuntak dari toba asalnya makkela, cuma telah menjadi american (WN USA). Prosesi pasu2 dan adat di Jkt, hanya siputri patuh thd petuah keluarga itu saja menurut saya, Makkela.
  • Posman Purba Tanjung Baik____kita renungkan sesaat.