Monday, February 11, 2013

SEJARAH SINGKAT KERAJAAN-KERAJAAN SIMALUNGUN

 
KERAJAAN NAGUR (500-1400)
Inilah kerajaan pertama suku Simalungun, rajanya bermarga Damanik Nagur (Rampogos). Wilayahnya sangat luas, lebih luas dari Kabupaten Simalungun sekarang ini. Masa kejayaan Kerajaan Nagur berakhir sesudah penyerbuan oleh Aceh pada tahun 1539 ke beberapa tempat di daerah kekuasaanya, khususnya di daerah pantai Timur. Nagur semakin mundur setelah diserang oleh pasukan Tuan Raya bermarga Saragih Garingging pada abad XIX. Sisanya adalah kampung Nagur Raja di Kabupaten Serdang Bedagai.
Nagur pada masa kejayaanya terdiri dari dua wilayah; di selatan oleh Nagur dan di utara oleh Kerajaan Batangiou yang selanjutnya berub ah menjadi Kerajaan Tanah Jawa. Menurut kisah, raja Nagur pada masa jayanya menjemput permaisuri (puang bolon) dari Kerajaan Mataram di Jawa. Dari sini bermula orang Simalungun memakai gotong batik seperti yang kita pakai sampai sekarang ini.

KERAJAAN SILOU (1300-1400)
Sesudah Nagur semakin lemah, maka salah seorang Anakborunya bermarga Purba Tambak diangkat menjadi Raja Goraha dan selanjutnya berkembang menjadi kerajaan bernama Kerajaan Silou. Nagur pada waktu itu masih tetap berdiri, tapi Kerajaan Silou semakin meluaskan wilayahnya hingga mancapai pantai Timur Sumatera sampai ke Asahan sekarang ini. Pusat pemerintahannya pada waktu itu berada di Silou Buntu di Kecamatan Raya sekarang ini, salah seorang rajanya yang terkenal bernama Tuan Toriti Purba Tambak dengan tungganganya Gajah Putih yang menjadi lambang kerajaannya.
Senasib dengan Nagur, pada abad XIV perang saudara pecah di Kerajaan Silou di antara sesama anak raja Silou, sehingga berdiri Kerajaan Panei dan Dologsilou dari masing-masing bermarga Purba Sidasuha dan Purba Tambak Lombang.

KERAJAAN RAJA MAROMPAT (1400-1946)
Pada abad XIV-XVI, situasi di Sumatera Timur berada dalam keadaan genting, karena Aceh dengan pasukan Sultan Iskandar Muda terus-menerus mengancam keberadaan kerajaan-kerajaan di sepanjang jalur perdagangannya di Selat Malaka. Kerajaan Nagur yang berkuasa di situ, semakin lama semakin lemah, dan akhirnya makin terdesak hingga ke pedalaman.
Untuk menghindarkan daerahnya dari pendudukan langsung; maka raja Nagur mengangkat orang-orang kepercayaannya menjadi panglima perang sekaligus dinikahkan dengan puteri-puterinya, sehingga para panglima ini berstatus Anakboru pada Raja Nagur yang otomatis akan menunjukkan rasa hormat dan penghargaannya kepada raja Nagur sebagai tondong.
Pada masa setelah abad XIV, muncullah empat raja utama di Simalungun; di mana Nagur masih tetap ada, tetapi peranannya sudah semakin menghilang. Keempat raja itu adalah: Tanoh Jawa dengan raja marga Sinaga, Panei dengan raja marga Purba Sidasuha, Dolog Silou raja marga Purba Tambak dan Siantar, kerajaan marga Damanik peninggalan dari Nagur terdahulu. Masing-masing diikat oleh adat Maranakboru, Martondong, Marsanina oleh karena hubungan kekerabatan lewat jalur perkawinan yang dipolakan oleh tradisi Puang Bolon, yaitu puteri raja yang menurut adat, syarat mutlak untuk meneruskan generasi raja turun temurun. Raja Panei dan Dologsilou menjemput puang bolon kepada marga Damanik puteri raja Siantar, demikian pula Tanah Djawa. Sedangkan raja Siantar sendiri menjemput isteri pada bangsawan Silampuyang dengan gelar Tuan Silampuyang marga Saragih.

RAJA MARPITU (1907-1946)
Tahun 1865 mulailah kolonialisme Belanda memasuki tanah Simalungun, mula-mula di Tanjung Kasau yang pada waktu itu tunduk ke Siantar, lalu makin merembes jauh sampai ke pedalaman Simalungun dalam rangka pembukaan perkebunan di atas lahan raja-raja Simalungun. Dengan berbagai intrik dan politik pecah belah di antara sesama raja-raja dan masyarakat Simalungun; Belanda berhasil memisahkan beberapa daerah adat Simalungun dari kekuasaan Raja Marompat; daerah Padang Bedagai yang pada awalnya daerah takluk Kerajaan Silou menjadi diakui sah sebagai raja oleh Belanda. Demikian pula daerah Batak Timur Dusun di Serdang diakui masuk kesultanan Serdang. Batubara sekitarnya sampai ke Tanjung Balai yang dulu berada di bawah kekuasaan raja Siantar dan Tanah Jawa dipisahkannya dari Simalungun dan dimasukkannya ke Kesultanan Asahan.
Pada tahun 1907 sesudah perlawanan raja-raja Simalungun berhasil ditundukkan Belanda, seperti raja Siantar Sangnaualuh Damanik, penguasa di Raya Rondahaim Saragih, Tuan Dolog Panribuan gelar Tuan Sibirong Sinaga dan raja Dologsilou Tn Tanjarmahei Purba Tambak maupun Tn Jontama Purba Sidasuha raja Panei; maka Belanda mengakui Raya, Purba dan Silimakuta menjadi kerajaan penuh di samping kerajaan Raja Marompat yang sudah lebih dahulu hadir ratusan tahun sebelumnya. Dengan demikian hadirlah tujuh kerajaan di Simalungun sesudah kehancuran Kerajaan Nagur, yaitu:

1. Kerajaan PANEI RAJA MARGA PURBA SIDASUHA dengan puang bolon puteri boru Damanik dari Kerajaan Siantar;
2. Kerajaan TANOH JAWA RAJA MARGA SINAGA DADIHOYONG HATARAN dengan puang bolon dari tuan puteri boru Damanik dari Kerajaan Siantar;
3. Kerajaan SIANTAR RAJA MARGA DAMANIK BARIBA SI PAR APA dengan puangbolon dari tuan puteri boru Saragih Silampuyang dari Tuan Silampuyang/Sipoldas;
4. Kerajaan DOLOGSILOU RAJA MARGA PURBA TAMBAK dengan puangbolon tuan puteri boru Saragih Garinging dari Kerajaan Raya;
5. Kerajaan PURBA RAJA MARGA PURBA PAKPAK dengan puangbolon tuan puteri boru Damanik dari Kerajaan Siantar;
6. Kerajaan RAYA RAJA MARGA SARAGIH GARINGGING dengan puangbolon tuan puteri boru Purba Sidasuha dari Kerajaan Panei;
7. Kerajaan SILIMAKUTA RAJA MARGA PURBA GIRSANG dengan puangbolon tuan puteri boru Saragih Munthe/Saragih Garingging dari Tonging/Kerajaan Raya.

AKHIR KERAJAAN
Kerajaan-kerajaan Simalungun berakhir setelah kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945 secara politis tidak memiliki kekuasaan lagi seperti zaman Belanda yang diakui sebagai daerah istimewa berpemerintahan sendiri (zelfbestuurende Landschappen). Kerajaan-kerajaan Simalungun benar-benar hapus sesudah dihapuskan oleh Revolusi Sosial tanggal 3 Maret 1946 yang disertai dengan pembantaiaan tidak berperikemanusiaan oleh laskar rakyat Barisan Harimau Liar pimpinan Saragihras dan Djatongam Saragih dan kawan-kawan yang anti kerajaan. Raja-raja Simalungun diturunkan dari tahtanya dengan kekerasan, harta bendanya dirampas, bahkan nyawanya melayang bersama dengan keluarga dan rakyat yang mengasihi mereka. Mari kita kenang para raja Simalungun yang mati dibunuh dengan kejam oleh Barisan Harimau Liar itu; di antaranya Raja Panei Tuan Bosar Sumalam Purba Sidasuha; Raja Purba Tuan Mogang Purba Pakpak, Tuan Dolog Panribuan Tuan Hormajawa Sinaga, Tuan Sipolha Tuan Sahkuda Humala Raja Damanik, dan korban-korban lain yang belum diketahui.

Pematangsiantar, 15 September 2012
Pdt. Juandaha Raya P. Dasuha
  • Stev Bron's Poerba Purba pak pak puang bolon lang han siantar tapi han sidamanik do, unang salah hita da.
  • Dori Alam Girsang tunjukan satu sama ku gotong batik yg sudah berusia 200 tahun saja......
  • Parlindungan Damanik manstaps...monitor dan menyimak. GBU
  • Hendry Damanik Sampai kerajaan mar 7 kerajaan Nagur sebenarnya masih ada, tetapi sudah lemah krna menghadapi serangan terus menerus, terahir diserang Rondahaim dan hilang, keturunan raja Nagur juga banyak yg di buang ke bengkalis, ada yg di buang ke laut, sehingga ada makam yg hanya berisi air laut di sana, mereka juga sangat gigih menolak tanahnya jdi perkebunan, tpi krna kekuatan mereka sudah habis dengan terpaksa memberikan tanahnya ( ket. Asdan Damanik di Nagu raja)
  • Juandaha Raya Purba Stev Bron Purba, anggo ihatahon puang bolon han Siantar, na ginoran Siantar aima Siantar, Sidamanik, Bandar. On do margoran Siantar humbani marga Damanik bariba! Sarupa do ai pakon Panei, hanami mangalop puangbolon han Siantar, hansi pe hotopan han Marihat do (Tuan Marihat) tapi susurni han Rumah Bolon Siantar do tong ai, ai Tuan Anggi ni Siantar do Tuan Marihat!

    DG: Gotong ni hanami susurni ni Guru Raya dong pe, anjaha ai do ipakei hanami manipat humbani sapari anggo martongah jabu hanami (au sandiri). Anggo ididah nasiam na i wall hu, aima gotong nalobei ampa ugas-ugasni nalobei nami nadob lobih umurni ai 200 tahun, tapi tahan pe das nuan on (anjaha jimpo do ai isimpan hanami) i huta rap pakon ugas-ugas na legan sanggah bani hasipalageon pe ompung nalobeinami! Pustaha, buluh surat, baju polang-polangni ampa ugas haguruonni dong pe! Anggo hutaksir ai lobih umurni 200 tahun! Ai hanami sandiri dob 9 generasi dob pindah ompungnami hun Bajalinggei sapari!
  • Sita Damanik NAIDO TENE .
  • Dinasty Nagur Tambahan literatur :
    Jalannya hukum adat Simalungun: gorga tapak Raja Suleman, habonaran do bona Karangan Jahutar Damanik .Damanik bekerjasama dengan P.D. Aslan, 1974 - 279 halaman
    Customs of the Simelungun people, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

    ==========
    Raja Sang Naualuh : sejarah perjuangan kebangkitan bangsa Indonesia / disusun oleh Jahutar Damanik.Medan : J. Damanik, 1981, 1987 printing.
    ===========
    http://openlibrary.org/authors/OL998364A/Jahutar_Damanik
    http://catalog.hathitrust.org/Record/001100952
  • Karles Hasiholan Sinaga yang saya tahu batik dan keris adalah juga corak budaya melayu, bukan monopoli jawa. malaysia juga banyak corak batik,
  • Dori Alam Girsang HasR4tna Blog

    Batik Indonesia Warisan Untuk Dunia

    Batik adalah tehnik tehnik pewarnaan pada kain dengan menggunakan lilin yang membentuk motif lalu di celupkan kedalam zat pewarna. tehnik pencelupan ini disebut sebagi wax resistancedyeing technique y
    ang sudah di kenal di berbagai penjuru dunia. Lilin mengikuti motif yang di gambar terlabih dahulu di maksudkan untuk menahan warna pada saat pencelupan. Dan setelah dikeringkan,kain bisa di celup dengan warna kain untuk memberikan variasi pada warna.

    Bangsa mesir sudah mengenal tehnik ini sejak sebelum masehi,dan konon kain indah yang menyelimuti mumi di warnai melalui proses wax resistancedyeing technique. Ahli sejarah juga menemukan tehnik pewarnaan seperti ini telah di gunakan dataran cina sejak Dinasti Sui (abad ke 6 )Dinasti T'ang ( abad ke 7 ) menggunakannya untuk mewarnai kain sutera. Kain dengan tehnik pewarnaan yang sama juga ditemukan dari peninggalan nenek moyang bangsa jepang, india, dan berbagai negara di benua afrika.

    Di indonesia sendiri metode pencelupan warna dengan menggunakan lilin telah menjadi bagian tradisi dari susku suku di Toraja, Halmahera, Papua, Sumatra dan Jawa sejak sekitar abat ke 7. Ada ahli sejarah yang mengatakan metode tersebut di perkenalkan oleh orang cina. Uniknya, meski metode pewarnaan kain dengan memanfaatkan lilin sebelum pencelupan sudah dikenal oleh orang banyak di berbagai suku bangsa di dunia dan dengan berbagai nama,namun kata "batik" menjadi nama yang istimewa untuk merujuk metode pewarnaan tersebut. Kata "batik" muncul pertama kali dalam peta bahasa dunia setelah pada tahun 1880. Kata "batik" masuk di dalam Encyclopedia Britannica dengan tulisan battik

    Batik Sebagai Komoditi Perdagangan Antar Negara.

    Kata batik merupakan peleburan dua kata dari bahasa jawa, amba dan titik. Meski ada kemungkinan metode batik telah di kenal di indonesia sejak abad ke 7,namun kain batik baru mendapat nama pada saat kain batik menjadi pakaian keluarga kerajaan di jawa sekitar abad ke 13.Desain kain batik dirancang untuk menunjukan status kebangsawanan priyayai jawa.

    Kain batik dikerjakan dengan proses seni dan pembuatan yang rumit serta memakan waktu. Ini yang membuat kain batik menjadi kain yang bermutu dan memeiliki nilai jual. Beberapa buku sejarah mencatat bahwa kain batik dari jawa adalah komoditi dagang kerajaan jawa di dalam perdagangan dunia sejak abad ke 13. Kain batik juga merupakan bagian dari hadiah yang dipertukarkan utusan raja dipulau jawa denagan para kolegannya di kerajaan lain,termasuk kaisar negeri cina.

    Di masa penjajahan belanda,banyak pedagang belanda yang mengumpulkan kain batik jawa untuk di bawa pulang ke negerinya,termasuk kemudian menjadi koleksi di museum belanda. Kain batik juga membuat kagum masyarakat dan para pekerja seni ketika di pamerkan di eksebisi di paris pada tahun 1990.

    Batik Yang Kita Kenal Sekarang.

    Perkembangan tehnik pembuatan seperti yang terjadi pada produk kerajinan lain juga terjadi pada proses membatik. Batik cap membuat proses membatik menjadi lebih mudah dalam berproduksi. Teknologi komputer jugadi kenal dalam pembuatan kain batik,terutama dalam meningkatkan dan mempermudah presisi desain yang di buat. Meski masih ada yang mempertahankan ekslusifitas desain batik,namun kemajuan teknologi komputer juga membuat industri batik makin masif. Popularitas batik sebagai desain kain yang indah makin meningkat dan makin banyak peminatnya. Teknologi komputer dan pencetakan desain, membuat kain batik bisa di produksi oleh siapapun di seluruh dunia.

    Saat ini meski batik sering di akui oleh bangsa lain,namun dunia sudah mengakuinya sebagai warisan budaya bangsa indonesia kepada dunia. Terutama setelah UNESCO mengumumkannya secara resmi di bulan mei 2009. Duniapun mulai memberi apresiasi penuh etrhadap batik
  • Juandaha Raya Purba Buku Jahutar yang ditunjukkan Dinasty Nagur itu pantas disebut sumber, tapi kita harus kritisi juga buku itu, sebab dia mangandalkan sumber buku Tuanku Rao yang jelas sudah banyak ditolak oleh para sejarawan modern. Pun di halaman terakhir buku itu di kisah legenda (yang juga dikutip Muhar Omtatok) dalam makalahnya tentang Nagur itu sangat lemah objektifitasnya! Apalagi kalau dibaca terus sampai ke belakang (di silsilah marga Simalungun) pasti akan menuai pro kontra, khususnya di kalangan marga turunan Parna di Toba yang oleh Jahutar dimasukkannya sebagai keturunan langsung dari Sumbayak dan Garinging.

    Lalu di Purba juga begitu, dimasukkanya turunan Siboro dan Sigulangbatu dari Toba sebagai turunan langsung dari marga Purba di Simalungun!

    Hal-hal seperti ini harus di kaji lebih seksama dengan mengandalkan arsip-arsip yang mendukung! Bukan hanya mencomot saja! Itu kritik saya dengan buku Jahutar Damanik dalam buku Jalannya Hukum Adat Simalungun dan Sejarah Kebangkitan Bangsa Indonesia (Sangnaualuh).
  • Sita Damanik NASSIAMMA BOTOHAN TENE .
  • Parlindungan Damanik Pak Juandaha Raya Purba , saya ambil satu contoh tentang Korte Verklaring Kerajaan Siantar 16 Oktober 1907 , Bapa Jahutar Damanik sudah lama menulis tentang itu di dalam bukunya tahun 1981 / cetak 1987 dan data ini di perkuat oleh DR Djoko Mariandono tahun 2009 dan buku Bapa sendiri tahun 2010 Lihat "katanya" , "mewakili" dan "menyetujui" mari kita analisa Korte Verklaring itu dari kalimat kalimat tsb dan lihat teks aslinya dan lihat masa / tahun penulisannya ? (sulit mencari data), jadi menurut saya Bapa Jahutar Damanik sangat tajam dan mempertanyakan ? kalimat "katanya".
    ===========================
    Sudah dibaca , tentang Korte Verklaring dari ketiga buku , intinya :
    Pada halaman 26 dari Buku " Raja Sang Naualuh : sejarah perjuangan kebangkitan bangsa Indonesia "disusun oleh Jahutar Damanik . Ada tertulis :
    ......"Rapat diadakan pada tanggal 16 Oktober 1907 dengan pernyataan pembesar pembesar Kerajaan Siattar sebanyak 37 orang yang telah setuju Korte Verklaring diberlakukan, katanya masing masing telah membubuhkan tanda tangan persetujuan pada fakta hanya daftar nama yang hadir"..........
    ================
    Halaman 172 Pada Buku " Perlawanan SANG NAHUALU" Sejarah Perlawanan Masyarakat Simalungun Terhadap Kolonialisme karangan adalah Dr. Djoko Marihandono dan Harto Juwono, M.Hum. , ......"Akibatnya,meskipun kendali pemerintahan di Kerajaan Siantar belum stabil dengan belum diangkatnya seorang penguasa disana, pada tanggal 16 Oktober 1907 Pelakat Pendek ditandatangani oleh Tuan Marihat dan Tuan Sidapmanik yang mewakili para bangsawan Siantar".....
    ===========
    Halaman 93 Pada Buku Kerajaan Siantar Dari Pulao Holang Ke Kota Pematang Siantar , ........."Maka pada tanggal 16 Oktober 1907 Plakat Pendek (Korte Verklaring) ditandatangani atas nama komisi Kerajaan Siantar oleh dua orang anggota komisi : Tuan Riahata Damanik tuan Sidamanik dan Tuan Torialam Damanik . Dalam laporan proces verbal Kontrolir Jure Lucan O'Brien menyatakan bahwa anggota anggota komisi dan orang orang besar (bangsawan) dan para partuanan/parbapaan seluruh Kerajaan Siantar sudah menyetujui dan hadir di hadapan kontrolir".........
  • Sita Damanik DEARMA TONGON AI .
  • Nueng Saragih ini cara komunis dan CIA, mereka menggunakan kekuatan lokal, mirip dengan pembantaian 65.
  • Juandaha Raya Purba Kalau dokumen itu karena memang saya juga punya kopiannya dari Mr Djariaman Damanik (KV) tidak ada masalah; yang menjadi masalah adalah penjelasan Jahutar Damanik yang tidak bisa membedakan di mana historis dan di mana mitos; apalagi sampai memasukkan marga orang suku lain ke marga Simalungun! Saya pikir ini terlalu pagi! Perlu penelitian, apa memang ada orang Toba yagn setuju dengan silsilah yang dbuat Jahutar Damanik (yang hanya satu halaman itu?).
  • Parlindungan Damanik ok , saya setuju yang disampaikan Bapa Juandaha Raya Purba ,GBU.
  • Juandaha Raya Purba Kalau begitu mari kita lanjutkan kajian tentang asal-usul orang Simalungun sekarang ini; yang hipotesa saya sementara ini, orang Simalungun adalah orang-orang dari berbagai latar belakang etnis dan ras yang dulu melebur dengan masyarakat asli Simalungun (yang mungkin tidak bermarga awalnya) yang kita sebut proto Simalungun dan deutero Simalungun!
  • Karles Hasiholan Sinaga sebenarnya sah saja mengutip semua sumber perbandingan sebaiknya di angkat. ada kisah menarik yang bisa berakibat aib yang bisa jadi melakukan dari saudara2 kita yang ProTAP, di mana mereka mengatakan Bahwa Guru Patimpur adalah turunan Sisingamangaraja bermarga Sinambela, nah tentu saudara kita dari etnis karo tidak suka ini, karena yang mereka tahu Guru Patimpus adalah bermarga Sembiring Pelawi, nah kalau di karo Padannya Sinambela (Siraja Oloan) adalah Karo-Karo bukan Sembiring jadi semakin anah kedengarannya.
    Tapi yang dari ProTAP mengatakan mengutip dari Kitap Hamparan Perak, nah ini kan jaman Google, harusnya bisa di buat 2 sumber perbandingan. Biar jangan dapat Makian.
    Mungkin kita bisa ambil hikmah dari kejadian ini Amang Pandeta, Diateitupa.
  • Sita Damanik Naima tongon .
  • Tumpal Paulus Yosef Simanjorang @ Karles Hasiholan Sinaga: Saninan, coba baca sejarah Kesultanan Hamparan Perak...ada tersaji tentang Gr. Patimpus itu... Memang naskah aslinya telah terbakar pada Revsos... tapi siapa tau masih ada naskah berupa salinan? Memang Guru Patimpus itu bermarga Sembiring Pelawi...tetapi kemungkinan juga dia adalah anak Si Raja Hita (saudaranya Sisingamangaraja-I)...yaitu hasil perkawinannya dengan seseorang wanita di daerah lain (Karo?), yang kemudian ditinggal begitu saja...dan wanita itu alu kawin dengan marga Sembiring Pelawi.. Memang soal ini issu sensitif bagi saudara kita orang Karo... Padahal seharusnya, agar tidak terus menjadi issu, kenapa tidak dituntaskan saja dengan membuat study secara mendalam sehingga ketemu fakta-fakta yang sebenarnya? Sayang ini tidak pernah dilakukan sehingga hal ini menjadi satu issu sensitif yang terus terpelihara 'dengan baik'... Begitu saninan yang saya tau...
  • Sita Damanik DEARMA ai tongon .

No comments:

Post a Comment