Monday, March 21, 2011

SEJARAH SIMATAAJA SIMARMATA



Ini dia sejarah marga Simarmata. Margaku ini termasuk sedikit warganya, bahkan sebagian "berlindung" dibalik marga Saragih/Saragi dalam kelompok marga Parna. Simarmata itu sendiri merupakan salah satu marga Batak yang terdapat dalam komunitas masyarakat Batak Toba yang berasal dari Pulau Samosir di provinsi Sumatra Utara, Indonesia.

Kalo dilihat dari silsilah orang Batak yang dipercaya berasal dari Siraja Batak adalah sbb.:
1. Siraja Batak
2. Guru Tatea Bulan
3. ………..
4. Saragi Tua
5. Ompu Tuan Binur
6. Simarmata

Ompu Tuan Binur Anaknya Saragi Tua, menikah dengan Bunga Ria Boru Manurung, puteri Raja Manurung yang tinggal di negeri Sihotang. Ompu Tuan Binur kemudian mendirikan kampung yang bernama Huta Namora di Rianiate, dekat Pangururan dan menjadi raja dari daerah sekitarnya.

Ompu Tuan Binur ini mempunyai 4 orang putera yaitu Lango Raja, Saing Raja, Mata Raja dan Deak Raja, dan kedua puterinya kawin dengan Sihotang Marsoit dan Limbong Naopatpulu. Putera ketiga dari Ompu Tuan Binur yaitu Simataraja,yang kemudian kawin dengan puteri Raja Saudakkal dari Limbong Mulana, bernama Lahatma boru Limbong Sihole, dan selanjutnya mereka tinggal didaerah bernama Simarmata, sebagai bona pasogit dari seluruh keturunan Ompu Simataraja marga Simarmata.

Kapan persisnya Simataraja memakai marga Simarmata, kurang jelas. Dari perkawinannya, Simataraja mempunyai tiga orang putera yaitu: Halihi Raja, Menikah dengan Naolo boru Sihaloho dari Janji Maria Parbaba, Dosi Raja, Menikah dengan Bungahom boru Malau dari Rianiate, dan Datuktuk Raja Menikah dengan Tiarma boru Sinaga Uruk dari Batu Upar, Urat. Kepada ketiga puteranya Simataraja membagikan tanah sebagai tempat kediaman masing-masing beserta keturunannya. Halihi Raja memperoleh Huta Uruk, Dosi Raja memperoleh Huta Toguan (Toruan), dan yang bungsu Datuktuk Raja memperoleh Huta Balian.

Setelah Ompu Simataraja wafat, maka ketiga puteranya tetap menjadi raja di negeri Simarmata dengan damai. Diduga ketiga Ompu ini hidup sekitar tahun 1550. Dari ketiga putera Ompu Simataraja inilah yang menurunkan marga Simarmata dan menyebar keseluruh pelosok, terutama ke daerah pantai Sumatera ditepian pantai Danau Toba, baik kearah Timur, Tenggara maupun Barat, diantaranya ke Simalungun, Karo, Dairi, Humbang, Sibolga, Barus dan selanjutnya ke Pematang Siantar, Binjai dan kota-kota lainnya di Sumatera, Jawa, bahkan ke seluruh Indonesia dan Dunia.

OMPU TUAN BINUR
Adalah putera sulung Raja Isumbaon yang sebenarnya bernama Ompu Tuan Nabolon, namun sampai kini keturunannya dinamai pomparan Nai Ambaton menurut ibu leluhurnya dan walaupun keturunan Nai Ambaton sudah lebih dari 50 marga dan lebih kurang 20 generasi, sampai sekarang masih tetap mempertahankan ”ruhut bombong” yaitu peraturan yang tidak memperbolehkan perkawinan sesama marga yang termasuk seluruh marga Nai Ambaton.

Nai Ambaton mempunyai 5 putera tetapi ada pendapat yang mengatakan tiga orang putera, ada yang mengatakan dua dan yang lain mengatakan empat orang putera. Meskpun ada perbedaan pendapat tetapi tentang jumlah dan marga-marga yang termasuk keturunan Raja Nai Ambaton hampir semua sepakat. Di bawah ini adalah putera-putera Nai Ambaton yaitu:
1. Simbolon Tua
2. Saragi Tua
3. Tamba Tua
4. Munte Tua
5. Nahampun Tua
Dari lima marga induk lahirlah berpuluh-puluh marga keturunan Nai Ambaton seperti disebutkan diatas.

Dari putera kedua Nai Ambaton yaitu Saragi Tua mempunyai dua orang putera yaitu:
1. Ompu Tuan Binur
2. Saragi Tua

Putera sulung Saragi Tua yaitu Ompu Tuan Binur kemudian kawin dengan Bunga Ria Boru Manurung puteri Raja Manurung yang tinggal di Negeri Sihotang. Ompu Tuan Binur kemudian mendirikan kampung yang bernama Huta Namora di Rianiate dan menjadi Raja dari daerah sekitarnya. Ompu Tuan Binur mempunyai 4 orang putera, yaitu:
1. Lango Raja
2. Saing Raja
3. Mata Raja
4. Deak Raja
Sedangkan 2 puterinya kawin dengan Sihotang Marsoit dan Limbong Naopatpulu.

OMPU SIMATARAJA SIMARMATA.
Putera ketiga dari Ompu Tuan Binur yaitu Simataraja, yang kemudian kawin dengan puteri Raja Saudakkal dari Limbong Mulana, bernama Lahatma boru Limbong Sihole, dan selanjutnya mereka tinggal didaerah bernama Simarmata, sebagai bona pasogit dari seluruh keturunan Ompu Simataraja marga Simarmata. Kapan percisnya Simataraja memakai marga Simarmata, kurang jelas. Dari perkawinannya, Simataraja mempunyai tiga orang putera yaitu:Halihi Raja, kawin dengan Naolo boru Sihaloho dari Janji Maria Parbaba, Dosi Raja, kawin dengan Bungahom boru Malau dari Rianiate, dan Datuktuk Raja kawin dengan Tiarma boru Sinaga Uruk dari Batu Upar, Urat. Kepada ketiga puteranya Simataraja membagikan tanah sebagai tempat kediaman masing-masing beserta keturunannya. Halihi Raja memperoleh Huta Uruk, Dosi Raja memperoleh Huta Toguan(Toruan), dan yang bungsu Datuktuk Raja memperoleh Huta Balian. Setelah Ompu Simataraja wafat, maka ketiga puteranya tetap menjadi raja di negeri Simarmata dengan damai. Diduga ketiga Ompu ini hidup sekitar tahun 1550. Dari ketiga putera Ompu Simataraja inilah yang menurunkan marga Simarmata dan menyebar keseluruh pelosok, terutama ke daerah pantai Sumatera ditepian pantai Danau Toba, baik kearah Timur, Tenggara maupun Barat, diantaranya ke Simalungun, Karo, Dairi, Humbang, Sibolga, Barus dan selanjutnya ke Pematang Siantar, Binjai dan kota-kota lainnya di Sumatera, Jawa, bahkan ke seluruh Indonesia dan Dunia.

RAJA BIUS SIMARMATA SI TOLU TALI
Menurut Adniel Lumbantobing dalam bukunya Sejarah Sisingamangaraja yang dikutip Batara Sangti dalam bukunya Sejarah Batak, diperkirakan Si Raja Batak hidup sekitar tahun 1305. Dengan demikian kalau ditarik tarombo sampai kepada Ompu Simataraja yang merupakan generasi ketujuh, terentang jarak sekitar 210 tahun (dengan asumsi atau generasi 30 tahun) berarti Ompu Simataraja hidup sekitar tahun 1515. Sebagai perbandingan Tuan Sisingamangaraja I bernama Raja Manghuntal lahir pada tahun 1515 (A. Lumbantobing).

Kalau dilanjutkan kepada putera Ompu Simataraja yaitu Halihi Raja, Dosi Raja dan Datuktuk Raja dapat dikatakan ketiga putera Ompu Simataraja hidup sekitar tahun 1545.

Dari data yang ada pada penulis yaitu tarombo Bp. Drs. R.U. Simarmata (Halihi Raja) dan Tarombo Bp. J.F. Simarmata (Datuktuk Raja) yang merupakan generasi ke-13 dan ke-14, maka perkiraan tahun tersebut di atas tidak jauh berbeda.

Dari ketiga putera Ompu Simataraja inilah yang menurunkan Marga Simarmata, menyebar ke seluruh pelosok, terutama ke daerah pantai sumatera di tepian pantai Danau Toba baik ke arah timur, tenggara maupun ke barat diantaranya ke Simalungun, Karo, Dairi, Humbang, Sibolga, Barus dan selanjutnya ke P. Siantar, Binjai dan kota-kota lainnya di Sumatera, Jakarta, ke seluruh Indonesia bahkan ke seluruh dunia.

SIMALUNGUN
Kalau diperhatikan bahwa raja-raja penguasa tanah Simalungun yang hanya terdiri dari empat marga, yaitu: Saragih, Damanik, Purba dan Sinaga dapat disimpulkan bahwa keturunan Raja Nai Ambaton dari puteranya Saragi Tua sudah cukup lama pergi ke tanah Simalungun sehingga dapat menjadi raja.
Keturunan Simataraja marga Simarmata yang datang kemudian dapat diterima di Simalungun karena mengikuti marga dongan tubunya Saragi yang di Simalungun menjadi Saragih. Baru belakangan setelah kekuasaan raja-raja berkurang marga Simarmata yang tadinya disebut marga Saragih kembali memakai marga Simarmata, walaupun karena sudah cukup lama memakai marga Saragih banyak diantaranya yang tidak mengingat lagi keturunan Ompu yang manakah diantara ketiga putera Ompu Simataraja yang bersangkutan.
Generasi selanjutnya yang kemudian menempati pesisir pantai di hadapan Pulau Samosir. Mereka mendiami daerah Tigaras, Haranggaol, Silalahi, dan desa-desa di sepanjang pantai tersebut.
Menurut cerita perpindahan ke tanah Simalungun ini sudah berlangsung antara tujuh sampai sepulu generasi.

KARO
Menurut Mulgap Ginting yang dimuat pada harian Sinar Indonesia Baru 31 Oktober 1971 Medan, Simarmata yang di tanah Karo menjadi Garamata (merah mata) mengembara ke tanah Karo melalui Dairi.
Kampung yang mula-mula ditempati di tanah Karo yaitu kampung Lau Lingga (sekarang Kecamatan Juhar). Di sini Garamata membuat namanya Matangken dan marganya Ginting. Di kampung inilah Matangken kawin dan mendapat seorang anak yang diberi nama Tindang (berdiri). Sesudah dewasa Tindang kawin di kampung itu juga. Istrinya adalah anak Raja Umang. Sebelum mempunyai anak Tidang dan istrinya meninggalkan kampung Lau Lingga dan pergi ke arah Timur, lalu bertempat tinggal di sebuah kampung bernama Gura Lesma dekat kota Kabanjahe (sekarang Kecamatan Munthe). Kehidupan mereka bertani dan di tempat ini mereka mempunyai anak yaitu 9 laki-laki dan satu perempuan yang masing-masing bernama Ajar Tambun, Suka, Babo, Sugihen, Gurupatih, Jadibata, Beras, Bukit, Garamata dan yang perempuan bernama Bembem.

DAIRI, HUMBANG DAN BARUS
Perpindahan keturunan Simataraja ke daerah ini adalah mengikuti dongan tubunya Simbolon, meskipun tidak sebanyak marga Simbolon tetapi di beberapa daerah di sekitar Humbang terdapat marga Simarmata yang sudah tinggal beberapa generasi disitu (Batara Sangti dalam Sejarah Batak).

DAERAH LAINNYA
Demikianlah generasi-generasi awal perpindahan keturunan Simataraja dari Bona Pasogit, selanjutnya menyebar ke daerah lain sampai ke Jakarta.
Khusus ke Jakarta dari cerita-cerita para sesepuh, keturunan marga Simarmata menetap di Jakarta baru pada awal tahun lima puluhan seperti Bapak A. Simarmata, Bapak Ismail Simarmata yang sudah meninggal dan lain-lain.
Baik sekali kalau dapat diperoleh data yang akurat tentang perpindahan marga Simarmata ke Jakarta ini.

SIMATARAJA MENGASIHI ADIKNYA DEAK RAJA DENGAN SETULUS HATI.
Ketika ayahanda Lango Raja, Saing Raja, dan Simataraja meninggal, ibu mereka Ompu Bungaria boru Manurung sedang hamil (Marnadeak siubeon), kedua abang Simataraja bersikeras agar warisan peninggalan Ompu Tuan Binur dapat dibagi secepatnya. Tetapi Simataraja menolak dengan pertimbangan bahwa ibunda mereka masih hamil, mengandung calon adik mereka. Bagaimana warisan dapat dibagi tiga, sebab kalau ternyata bayi yang akan lahir itu adalah laki-laki, sesuai adat Batak, semuanya mempunyai hak yang sama. Simataraja meminta kepada abang-abangnya agar pembagian warisan ditunda saja dulu, sampai ibu mereka melahirkan. Permintaan Simataraja tidak disetujui oleh Lango Raja dan Saing Raja. Mereka tetap bersikeras agar pembagian dilakukan sekarang juga. Dengan perasaan sedih dan terpaksa Simataraja menyetujui keputusan kedua abangnya, dan dia berjanji bila bayi yang akan dilahirkan ibunya adalah laki-laki, maka warisan yang menjadi haknya akan diberikan kepada adiknya itu. Keputusanpun dilaksanakan, warisan dibagi tiga. Setelah tiba saatnya, ibunda merekapun melahirkan seorang putera yang diberi nama Deak Raja, dan sesuai janjinya Simataraja memberikan warisan miliknya untuk adiknya yang sangat disayanginya karena dia tidak sempat mengenal ayahanda mereka. Kemudian hari Deak Raja menurunkan marga Nadeak. Kisah ini dapat memberi pelajaran berharga bagi keturunan Simataraja, yang sekarang ini dikenal sebagai marga Simarmata, agar tetap menghormati yang lebih tua berupa tunduk kepada keputusan abangnya dan tidak mementingkan harta, dengan memberikan warisannya kepada adiknya, dan dia sendiri meninggalkan kampung halamannya di Rianiate dan pergi ke daerah baru, yang sekarang ini dikenal sebagai negeri Simarmata.

SIMATARAJA UNGGUL DALAM HAL KOMUNIKASI DAN NEGOSIASI.
Konon khabarnya bahwa di negeri Tamba, tempat tinggal keturunan Tamba, ada warisan peninggalan kakek Simataraja yaitu Saragi Tua dan peninggalan ayahnya yaitu Ompu Tuan Binur. Mereka berempat, Lango Raja, Saing Raja dan Simataraja beserta Deak Raja berunding untuk meminta penjelasan tentang warisan yang menjadi hak mereka. Disepakati bahwa yang menjadi utusan adalah Simataraja. Pada hari baik dan bulan baik, berangkatlah Simataraja ke negeri Tamba dengan misi "patotahon" atau "penegasan" bagian peninggalan ayah dan kakeknya. Kedatangan Simataraja disambut dengan baik oleh dongan sabutuhanya dari keturunan si Raja Nai Ambaton, yaitu Tamba bersaudara yang terdiri dari:Si Tonggor Dolok, Si Tonggor Tonga-tonga dan Si Tonggor Toruan. Melalui acara marsisean Tamba bersaudara bertanya tentang maksud dan kedatangan Simataraja, yang di jawab bahwa kedatangan Simataraja adalah untuk bertanya tentang warisan peninggalan kakek dan ayahnya yang ada di daerah Tamba. Tamba bersaudara mengakui bahwa ada peninggalan Ompu Tuan Binur dan Saragi Tua di daerah Tamba. Tamba bersaudara mengajak Simataraja ke Golat yang ada di daerah Tamba, lalu mereka berikrar dan menyepakati mana yang mejadi hak Tamba bersaudara dan mana yang menjadi hak keturunan Ompu Tuan Binur. Setelah ikrar dipastikan, tercapa rasa puas, pada masing-masing pihak, lalu mereka mengadakan pesta gembira, dengan mengundang semua unsur Dalihan Natolu. Pada pesta tersebut mereka mangalahat horbo sitingko tanduk, sijambe ihur, siopat pusoran namalo marege di tonga alaman, melambangkan kegembiraan hati dan kerbau yang mempunyai empat kaki melambangkan kesatuan mereka pinompar ni si Raja Nai Ambaton Nabolon. Kisah tersebut memberi pesan bahwa Simataraja, leluhur marga Simarmata adalah orang yang mempunyai kemampuan lebih dalam hal berkomunikasi dan negosiasi, bila dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Dalam masyarakat Batak yang patrilineal, dimana yang tertualah biasanya yang mewakili kepentingan keluarga. Simataraja dapat memperoleh apa yang menjadi misinya, tanpa mendatangkan rasa sakit hati kepada siapapun, malah justru merasa puas, karena kemampuannya "marhata". Suatu bahasa diplomasi ala Batak yang penuh dengan bahasa halus, umpasa-umpasa, tamsil, yang tidak dimiliki semua orang. Kemampuannya berkomunikasi sangat prima, artinya mampu memilih kata yang tepat pada waktu yang tepat, dapat mengendalikan emosi, mau mendengar pendapat orang lain, mampu melihat tidak hanya yang tersurat, melainkan juga yang tersirat, mempunyai wawasan pemikiran yang luas dan yang terutama mempunyai ketulusan hati. Semoga keturunannya, SIMARMATA dapat mewarisinya.

SIMATARAJA TIDAK MAU MEMPERGUNAKAN KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN.
Ada keturunan Raja Turnip dan Raja Siallagan, yang tinggal di Simanindo. Mereka mendapat serangan dari marga Purba dari Simalungun. Serangan demikian hebatnya, yang mengakibatkan kalau ada keturunan Turnip dan Siallagan yang tertangkap langsung di jadikan hatoban atau budak. Raja Turnip dan Siallagan kewalahan dan butuh pertolongan. Lalu diadakan Sidang Darurat yang memutuskan untuk meminta pertolongan Simataraja, selaku dongan tubu, tetangga dan konon khabarnya juga marpariban karena sama-sama helani ni Limbong. Utusan ditugaskan menemui Simataraja, dan untuk menunjukkan rasa hormat mereka membawa kuda Sigajanabara. Mendapat penjelasan dari utusan, Simataraja diyakini dapat melepaskan mereka dari kesulitan, maka dia pun berangkatlah ke Simanindo. Simataraja merancang strategy. Turnip dan Siallagan diminta agar selama tujuh hari memintal tali ijuk. Kemudian selama tujuh hari Turnip dan Siallagan agar jangan ada yang meninggalkan rumah. Simataraja mau berjuang sendiri, mempertahankan Simanindo. Dia membuat orang-orangan, sejenis ondel-ondel Betawi, yang dibuat mirip serdadu perang. Dipasang hanya pada malam hari, antara Rahutbosi dan Simanindo. Suatu malam musuh yang ditunggu-tunggupun datang, Simataraja siaga dengan tali ijuk di tangan, mengontrol orang-orangan. Begitu musuh sudah masuk pada jarak yang sesuai, tiba-tiba pengontrol ditarik mengakibatkan orang-orangan bergerak, bergoyang-goyang seperti serdadu yang menyerang musuh. Simataraja memberi komando seperti berperang. Musuh sangat kaget, menghadapi situasi yang tidak terduga, maka posisi perahu mereka kalang kabut, ada yang panik, ada yang tenggelam, ada yang melarikan diri. Musuh sudah kalah, sebelum menyadari apa yang terjadi. Turnip dan Siallagan sangatlah gembira. Pestapun diadakan, Simataraja diminta kesediaannya agar mau tinggal bersama mereka. Simataraja menolak permintaan dongan sabutuhanya, dengan ucapan:Marilah kita menempati tanah masing-masing. Kemudian mereka bertiga "marpadan". Pesan dari ceritera ini adalah Simataraja tidak mau mempergunakan kesempatan dalam kesempitan orang lain, tanah yang ditawarkan ditolak. Semoga keturunannya marga Simarmata, jangan menjadi orang yang materialistis.

TUGU SIMATARAJA
Tugu adalah monumen, pemersatu dan sebagai simbol leluhur marga, sekaligus menegaskan bahwa pomparan ini, keluarga ini bukan "mapultak sian bulu". Dengan memiliki monumen seorang keluarga Simarmata, tidak soal dari mana dia berasal, berapa generasi moyangnya sudah pergi merantau meninggalkan bonapasogit, dia tetap dapat berkata inilah leluhurku, akulah cucunya. Bonapasogit adalah tanah kelahiran, kampung halaman, tempat ziarah, tempat perantau melabuhkan rindu. Bonapasogit bagi keturunan Simataraja adalah tanah Simarmata, suatu negeri di pulau Samosir. Kini tugu kebanggaan seluruh pomparan, keluarga besar Ompu Simataraja, sudah berdiri tegak disebuah desa, dinegeri Simarmata bernama Toguan, ditepi Danau Toba, seolah melambai memanggil pulang anak cucunya untuk membangun bonapasogit tercinta, seolah mengulurkan tangan menyambut kedatangan "pomparan"nya dan berkata:Cucu-cucuku aku adalah leluhurmu, Simataraja Simarmata dan Lahatma boru Limbong Sihole, Tugu ini adalah pemersatu bagimu keturunanku, Tugu ini adalah tempat ziarah bagi kamu yang lelah, Tugu ini adalah mata air bagi kamu yang rindu. Tugu mempunyai ketinggian 17 meter. Pada puncak tugu terdapat "tatuan" yaitu sejenis piring yang terbuat dari kayu dan mempunyai "kaki" semacam penyangga. Dengan tatuan ini pada masa lampau keluarga Batak makan bersama. Pada model tatuan dipuncak tugu tersebut tidak lupa nasi putih. Tatuan berisi nasi putih ini menggambarkan-menyimbolkan "Pomparan Simataraja adalah sapanganan jala sada roha, seia sekata".

Sumber:
- Torsa-Torsa Simarmata
- http://www.simarmata.or.id/

No comments:

Post a Comment